Fariz RM, Dua Sisi Dalam Musik Universal

  • 11 June 2014
  • 140 views

Yang ia ingin hanya bermusik seumur hidup.

LAZONE.ID -

Talkmen.com --- Yang ia ingin hanya bermusik seumur hidup.

He is a hit maker who wrote many evergreens such as Sakura” and Barcelona”.   Meski tidak lagi muda, ia begitu luwes menjadi seorang musisi lintas generasi.

Menyukai musik dan menjadi musisi. Mungkin bisa dihitung pakai jari siapa saja nama musisi yang menggenggam kesuksesan yang mencintai musik seutuhnya, tanpa embel-embel 'mengikuti pasar' di belakangnya. Industri musik memang satu bidang yang gampang-gampang susah untuk ditekuni. Lengah sedikit, maka seseorang bisa saja tenggelam dengan tren yang ada, atau justru malah terseret arus hingga kehilangan jati diri bermusiknya. Belum lagi pembagian jenis musik yang seperti dikotak-kotakkan oleh masyarakat dengan sebutan mainstream atau indie. Bagi kami pribadi, musik apapun jenisnya adalah suatu karya seni karena membuatnya timbul dari imajinasi seseorang, kecuali yang hanya bermodal jiplakan.

Dari sekian banyak musisi, Fariz RM adalah salah satu yang paling kami gemari. Kali ini tim pun berkesempatan untuk mengajaknya tampil,mengisi rubrik kali ini. Saat bertandang ke rumahnya di kawasan Bintaro, dengan gayanya yang santai ia mempersilakan kami untuk menengok studio mini yang ia juluki "ruang Voodoo". Bukan, ruangan itu tidak ada nuansa mistiknya sama sekali. Dengan tumpukan keyboardmixer, dan alat musik lain yang berjejer di dalamnya, kami tahu itulah voodoo yang dilakukan musisi kelahiran 5 Januari 1959 ini untuk menyihir penikmat musik dengan karyanya.

Tak ingin terjebak dengan pertanyaan basi, kami pun melontarkan pertanyaan apakah dirinya merasa puas dengan julukan living legend yang melekat pada dirinya? 

"Terima kasih jika saya disebut living legend untuk industri musik Indonesia. Tapi mungkin yang lebih tepat, Tuhan, waktu, dan orang-orang di sekitar saya yang membuat perjalanan musik saya menjadi sebuah legenda."

Nama Fariz RM yang merupakan kepanjangan Fariz Roestam Moenaf ia dapatkan dari mendiang Chrisye sebagai "nama beken". Tak disangka, petuah tadi menjadi Dewi Fortuna bagi dirinya hingga menjadi salah satu musisi paling disegani di industri musik negeri ini. Persahabatan Fariz RM dengan musisi lain mulai terbangun saat ia duduk di bangku SMA. Tahun 1977, Fariz RM bersama Raidy Noor, Erwin Gutawa, dan Ikang Fawzi membentuk sebuah grup musik dan ikut dalam kompetisi Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan oleh radio Prambors. Tak menyangka, grup yang ia bentuk tadi berhasil menyabet gelar juara III. Itulah gerbang Fariz RM mengawali karier bermusiknya.

Di ruang Voodoo inilah Fariz RM berkarya.
 

Tak bosan menimba ilmu dari siapa saja. Itulah sosok Fariz RM. Bahkan saat mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung di akhir tahun 70-an, ia dekat dengan mendiang seniman Harry Roesli. Begitu banyak pelajaran yang didapatnya dari seniman senior kontroversial tersebut, terutama urusan pembuatan aransemen musik untuk sebuah film. Dengan latar film Sakura Dalam Pelukan (1979), ia merilis album Sakura di tahun 1980 dan meledak di pasaran. Begitu gigih seorang Fariz RM karena semua materi dalam album tersebut sepeti lagu SakuraNada Cinta, dan Mega Bhuana diaransemen oleh dirinya sendiri secara manual, jauh seperti teknologi saat ini yang serba digital.

Setelah menelurkan delapan album, pada tahun 1988 Fariz RM meluncurkan album Living in Western World di mana lagu Barcelona ada di dalamnya. Nuansa disko new wave yang menjadi ciri khas Fariz RM begitu kental terasa di setiap lagu yang dibuatnya. Pemusik yang menggandrungi genre rock seperti The Who, AC/DC, sampai The Beatles ini justru menginginkan musik yang lebih bernuansa disko ketimbang musik rock yang sebetulnya ia sukai.

"Ada dua sisi dalam diri saya. Fariz RM yang disko sekali dengan napas saturday night fever, dan Fariz yang memiliki jiwa rock di dalamnya. Semuanya berjalan beriringan, saat berkarya untuk industri maka Fariz RM yang disko itulah yang berperan. Sementara Fariz RM yang rocker tetap berjalan saat menyalurkan hobinya bermain musik. Dua-duanya tidak ada yang perlu dikorbankan. Karena itulah musik, sifatnya universal."

Sampai saat ini, Fariz RM telah menghasilkan 21 album. Dan pada albumnya yang terakhir berjudul Fenomena (2011), ia berkolaborasi dengan banyak musisi muda di antaranya adalah Glenn Fredly dan Pongki Barata. Album yang dikemas sebagai satu kesatuan perjalanan musiknya itu ternyata cukup diminati oleh para pecinta musik Tanah Air. Terbukti, di era digital seperti saat ini album Fenomena terjual sekitar 50.000 kopi di pasaran. Sebuah angka yang cukup fantastis di tengah gemerlap industri musik yang menyuguhkan sajian musik modern. 

Sulit untuk menghentikan langkah Fariz RM untuk bermusik. Di usianya yang tidak lagi muda, ia terus menyegarkan rasa musiknya dengan menggandeng banyak musisi dari berbagai generasi. Baginya, tidak ada alasan untuk keras kepala mempertahankan idealisme. Musik tetaplah musik, dan sampai kapanpun itu akan menjadi bagian dirinya... 

Baca juga artikel pilihan untuk kamu...