Lagi-lagi film tentang perbudakan wilayah selatan di Amerika Serikat diangkat ke layar lebar. Kali ini lebih brutal guys. Ngekor kesuksesan film-film sebelumnya yang juga mengangkat tema sama, seperti 'Django Unchained' dan 'Lincoln' yang sukses meraup nominasi Piala Oscar 2012, nah '12 Years a Slave' dianggap sebagai salah satu film terbaik sepanjang tahun ini yang penuh dengan tayangan film horror dan heroik. Mungkin saingan terdekat dari film ini hanya 'The Butler' yang juga ngasih potret sedikit soal sejarah AS. Dibintangin ama aktor asal Inggris Chiwetel Ejiofor, film ini bener-bener hidup banget, seolah kisah pedih yang dialami Solomon Northrup kita lagi saksiin secara live. Terinspirasi dari kisah nyata seorang warga kulit hitam dan pemain biola yang pintar asal New York Solomon Northup, '12 Years a Slave' menggambarkan gimana seorang pria yang awalnya punya kehidupan bahagia bersama keluarganya tiba-tiba berubah 180 derajat jadi begitu memilukan. Hal itu terjadi setelah Solomon diculik dan dijual sebagai budak. Dia menjadi budak di perkebunan kapas bersama warga kulit hitam lainnya. Dia harus menghadapi majikan yang jahat, Edwin Epps (diperankan Michael Fassbender), dan mandor perkebunan yang kejam. Mereka gak akan segan untuk mencambuk budak yang dianggapnya malas atau membangkang. Dipukul, dicaci, dihina, hingga diikat dan disiksa, menjadi bagian hidup Solomon. Dia bertahan hidup karena kenangannya tentang keluarganya yang hangat, istri dan anak-anaknya. Seorang budak yang senasib dengannya menasehatinya, agar Solomon tak membantah sang majikan, karena itu justru bisa bikin dia menghadapi siksaan yang kejam. “Loe kalo mau hidup, jangan banyak bicara, kerja saja,” begitu nasehatnya. Solomon menjawab,”Gue pengen hidup, pengen bebas.” Memang para budak seringkali saling membantu, saat seorang budak dapat perlakuan kejam dari majikan. Yah 12 tahun yang memilukan dalam hidup Solomon digambarkan sangat apik, runut meskipun materinya cukup berat untuk dicerna sebagian orang. Film ini juga dibintangi Brad Pitt, Paul Giamatti, Benedict Cumberbatch, dan Sarah Paulson. Sumber: Entertainment weekly, rottentomatoes