Para pecinta film menyambut meriah penayangan film biografi aktivis dan sastrawan Wiji Thukul, Istirahatlah Kata-kata. Film garapan sutradara Anggi Noen ini awalnya hanya diputar terbatas di 16 kota. 
 
Dari 19 layar, kini film tersebut medapatkan 28 layar. Beberapa layar yang ditambah antara lain di CGV Cinemas Grand Indonesia (Jakarta), Ciputra World XXI (Surabaya), BTC XXI (Bandung), Ambarrukmo XXI (Yogyakarta), Solo Square XXI (Solo), SGM XXI (Singkawang) dan TSM XXI (Makassar). 
 
Wiji Thukul adalah penyair yang kritis terhadap ketidakadilan penguasa. Rezim Soeharto telah 30-an tahun memegang pemerintahan di Indonesia dan mematikan demokrasi. Puisi-puisi Wiji lugas dan selalu diteriakkan dalam demonstrasi-demonstrasi melawan rezim.
 
 
Pada Juli 1996, pecah kerusuan di Jakarta, Wiji Thukul dan beberapa aktivis pro-demokrasi ditetapkan sebagai tersangka pemicu kerusuhan. Wiji lalu melarikan diri ke kota Pontianak. Selama hampir 8 bulan di Pontianak, Wiji tinggal berpindah-pindah rumah bahkan tinggal bersama dengan orang-orang yang sama sekali belum dia kenal.
 
Wiji mengawali pelariannya dengan ketakukan, karena status baru menjadi buronan. Namun, Wiji tetap menulis puisi dan beberapa cerpen dengan menggunakan nama pena lain. Wiji juga berganti identitas untuk mengelabui administrasi negara, tercatat Wiji menggunakan beberapa nama di dalam pelariannya.
 
Di Solo, Sipon istri Wiji Thukul hidup bersama dua anaknya. Sipon ditekan, rumah diawasi polisi, koleksi buku-buku disita dan beberapa kali Sipon digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi. Mei 1998, Wiji Thukul hilang, sebulan sebelum Soeharto diturunkankan rakyatnya sendiri.
banner-ads