Rave Party, Sebuah Budaya Perlawanan Atau Pesta Hedon?

LAZONE.ID - Pada awalnya, rave party adalah sebuah gerakan yang dilakukan sebagai aksi protesme terhadap kemewahan, namun kini malah identik dengan hedonisme

Rave Party awal mulanya adalah sebuah pesta yang digelar sebagai bentuk penolakan terhadap kemapaman. Rave party mengajarkan tentang kesamaan visi, persatuan, perdamaian dan saling menghormati. Namun seiring dengan semakin banyaknya penikmat rave party atau electronic dance ini membuat niali-nilai yang dibawa menjadi semakin menghilang.

Musik EDM sebagai basis musik rave party menjadi sesuatu yang sangat digemari banyak orang. Ngga hanya di luar negeri aja, namun remaja-remaja indonesia yang gaul juga suka banget sama EDM. Buktinya sebuah acara EDM terbesar digelar di Bali dan menyedot animo penonton Indonesia dan luar negeri.

Rave party yang sekarang cenderung lebih menyimpang artinya dari tujuan awal. Dulu, rave party dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan berpindah-pindah agar ngga ketahuan polisi. Rave party dijadikan tujuan para anak muda ketika para club dan tempat pesta mewajibkan pengunjungnya untuk memakai pakaian yang udah ditentukan. Berbeda dengan rave party, memakai sandal atau celana pendek ngga akan jadi masalah. Karena emang pada dasarnya, rave party adalah pergerakan anti kemapanan.

Namun semakin lama ketika rave party semakin diminati, maka kemudian promotor nakal membaca kesempatan tersebut sebagai bisnis. Dan hal tersebut akhirnya sukses besar.

Kini acara untuk menentang kemapanan tersebut berubah menjadi acara pesto hedon yang sarat akan glamor. Bahkan dalam acar besar seperti EDM di Bali, setidaknya harus menyiapkan uang sebesar Rp 500 ribu hanya untuk tiket masuknya aja.