Menurut berbagai sumber, nggak sedikit para peneliti Indonesia yang melakukan penelitian di luar negeri dan sukses menciptakan banyak hal yang keren. Nggak tau kenapa mereka lebih senang meneliti di luar negeri dari pada di negeri kelahirannya sendiri. Namun alasan yang paling masuk akal adalah pemerintah Indonesia nggak mengapresiasi secara maksimal orang-orang keren ini.

Hal tersebut juga nampaknya yang terjadi pada Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI. Riefqi Muna, salah satu staf P2P mengatakan jika peneliti yang dimiliki oleh P2P makin banyak yang kabur keluar negeri. Alasannya adalah pemerintah nggak menghargai ilmu yang mereka miliki.

Peneliti digaji dengan nominal sekitar 6 juta, dan hal tersebut terhitung sangat sedikit untuk proses pengembangan ilmu dan penelitian mereka. Satpol PP aja yang nggak menempuh pendidikan seberat para peneliti, gajinya 4-5 juta. Di luar negeri, para peneliti bakal menerima gaji sebesar 50-70 juta.

Dengan kondisi tersebut, kayaknya pantes jika para peneliti ini lebih memilih keluar negeri. Bukan masalah nasionalisme, namun soal sikap pemerintah. Lain hal jika pemerintah nggak sanggup membayar gaji peneliti yang tinggi, namun faktanya petugas satpol PP hampir menyamai gaji para peneliti tersebut.

Salah satu peneliti LIPI mengungkapkan jika dengan hanya gaji sebesar pendapatan Satpol PP, membeli buku aja masih belum cukup.