From zero to hero menjadi frase yang pas untuk menggambarkan kondisi Singapura sekarang. Berawal dari negara jajahan yang bahkan berdiri sendiri pun nggak mampu, kini si tetangga Malaysia berubah bak Amerika Serikat versi Asia yang selalu terdepan ekonomi dan infrastrukturnya. Walau secara geografis nggak lebih luas dari dari Jakarta dibagi dua.

Lee Kuan Yew adalah otak di balik semua perubahan fantastis ini. Meskipun jasadnya sekarang abadi di persemayaman, tapi rekam jejak fenomenal sang perdana menteri tetap ada di hati setiap 4 juta lebih warganya. Deretan ide briliannya ini yang bikin Singapura jadi macannya Asia menghempaskan negara kita.

Potongan gaji paksa

Fakta unik mengenai sistem penggajian di Singapura adalah pemotongan gaji sebesar 20 persen dan sifatnya paksaan. Sangat susah hidup di negara paling tinggi living cost-nya dengan penyusutan gaji sebesar itu. Bahkan pemerintah menyiapkan pajak penghasilan yang besar bagi siapa pun yang cuek dengan aturan ini. Loe mungkin bakal menyangka dana tersebut untuk pemerintah, tapi ternyata pada akhirnya dikembalikan lagi. Jumlahnya pun nggak terkira kadang bahkan sampai semiliar dollar Singapura. Nggak perlu khawatir hari tua kalau gini.

Berantas oposisi politik dan batasi pers

Indonesia harus belajar banyak soal politik ke tetangga sebelah ini. Salah satunya gimana mereka mengenyahkan oposisi politik yang berseberangan pendapat. Tanpa menunggu banyak waktu, setelah semua oknum berseberangan diberangus, visi dan misi Lee berjalan sangat mulus dan jauh lebih mudah. Lihat juga gimana mereka memberikan kebebasan terbatas terhadap pers. Pemerintah memegang semua media dan hanya ada pemberitaan yang positif. Now, they grow amazingly!

Kebersihan jadi prioritas

Dilarang meludah sembarangan atau harus membuang sampah terdengar remeh sekali, kan? Tapi, ketika yang turun langsung adalah seorang Perdana Menteri, maka hasilnya benar-benar beda. Sekarang loe lihat sendiri gimana teraturnya Singapura. Melihat bungkus permen pun bakal sama susahnya seperti cari jodoh di sini.

Kalau kata orang bijak, ambil yang baik dan singkirkan yang nggak sesuai. Indonesia pun bisa menjadi the next Singapura kalau mengenyahkan malu mengaplikasikan pemikiran wonderful sang Bapak Pembangunan Negeri Singa. Kita udah punya modalnya!