Merdeka.com --- Tisu toilet kian jamak digunakan di Indonesia seiring dengan perkembangan toilet yang lebih meminimalkan penggunaan air dalam penggunaannya. Dari semua tisu yang ada ternyata hampir semuanya berwarna putih. Mengapa bisa demikian?

Alasan utama yang banyak diperbincangkan terkait dengan kesesuaian warna putih dengan kebanyakan toilet. Selain itu, tisu toilet putih juga dianggap lebih bersih.

Tapi ternyata tersembunyi alasan lain yang ternyata cukup 'ilmiah'. Tisu toilet sejatinya berwarna kecoklatan sesaat setelah dibuat dari bahan kayu. Untuk mendapatkan warna putih yang khas, seluruh bahan mentah toilet tersebut harus diputihkan, Gizmodo (12/6).

Tidak hanya membersihkan si tisu, proses pemutihan mampu menghilangkan bahan pelekat khusus yang terletak pada setiap pohon, lignin. Lignin berfungsi untuk menyatukan lapisan serat kertas dan membuatnya lebih kaku.

Menurut Dr. Hou-Min Chang dari Universitas Raleight, sebuah pohon hanya dapat tumbuh hingga tinggi 2 meter saja tanpa zat perekat tersebut. Sebaliknya, hilangnya lignin saat pemutihan menjadikan kertas tisu lebih lembut dan mudah disobek agar nyaman saat dipakai.

Selain menambah kelembutan, menghilangnya zat lignin mampu meningkatkan masa penyimpanan dari si tisu toilet sendiri. Pernahkah Anda menemui tumpukan koran lama yang telah menguning? Warna kuning tersebut diakibatkan oleh proses menuanya lignin yang ada dalam serat kertas koran. Oleh sebab itu, hilangnya lignin otomatis akan membuat kertas terus berwarna putih dan bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Produsen tisu juga percaya jika 'mewarnai' tisu toilet selain menambah biaya juga meningkatkan resiko pembuangan limbah sisa pewarnaan yang berbahaya.

Zat-zat pewarna buatan untuk kertas seperti Rhodamin B, akan menghasilkan limbah berbahaya yang juga sulit untuk dikelola. Akumulasi Rhodamin B dalam jumlah tertentu dapat mengakibatkan gejala iritasi hingga keracunan saat kontak dengan manusia.