Siapa sih yang gak kenal Converse? Yup, merek sepatu yang udah berumur lebih dari seabad ini, seakan gak ada matinya dimakan jaman, bro. Bahkan, di saatmerek-merek lainnya lagi booming, Converse tetap konsisten walaupun pernah ngerasain yang namanya gulung tikar.
Berawal dari tahun 1908, pas Marquis Mill Converse mendirikan The Converse Rubber Company di Massachusetts, Amerika Serikat. Di tahun itu, Converse cuma bikin galoshes (pelindung alas kaki) dan sepatu musiman, bro.

Nah, ketika olahraga basket berkembang sembilan tahun kemudian, barulah Converse punya niat untuk nyediain sepatu yang cocok buat para pemainnya. Dan lahirlah The Converse All Star yang jadi produksi pertama sepatu basket di Amerika.

Ini bikin atlet basket Charles H. "Chuck" Taylor, kepincut untuk menggunakan Converse dan jatuh hati sama merek tersebut di tahun 1918, bro. Sampai-sampai, Chuck bergabung dan mempopulerkan Converse All-Star Chuck Taylor yang disebut-sebut sebagai raja sneakers pada 1923.

Tahun 1970-an, mulai masuk deh tuh, kompetitor baru seperti Puma, Adidas, Nike dan Reebok yang menggeser Converse, yang jadi sepatu resmi untuk National Basketball Association (NBA). Dari kejadian ini, selama akhir 1980 sampai 1990-an Converse All-Star jadi kurang populer, bro. Apalagi ketika masyarakat Amerika, mulai rajin beli produk kompetitor.

Sampai pada tahun 2003, ketika Converse tidak lagi eksis dan memilih untuk menjual perusahaannya ke Nike ketimbang meninggalkannya. Sejak resmi dibeli oleh Nike, pabrik pun secara sengaja dipindahkan ke luar Amerika Serikat, seperti ke benua Asia, bro.

Di benua Asia sendiri, terjadi perubahan desain yang memaksa para konsumennya untuk ngasih keluhan pada Converse. Ngedenger dan gak mau gagal untuk yang kedua kalinya, akhirnya sepatu diproduksi lagi dengan lapisan kembar kanvas yang dimulai antara tahun 2005 sampai 2009.