Merdeka.com --- Nelson Mandela memang simbol demokrasi dan perdamaian. Namun di akhir hayatnya, mantan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan ini justru harus menerima kenyataan pahit. Keluarganya berebut harta warisan dia berjumlah miliaran.

Surat kabar the Daily Mail mengungkapkan, Jumat (6/12), pemimpin anti-Apartheid ini di akhir hayatnya malah mengkhawatirkan perpecahan mendalam di antara keluarganya demi mendapatkan kekayaan dia.

Mandela menikah tiga kali dan mempunyai enam anak dari semua perkawinan itu. Namun hanya tiga anaknya masih hidup dan semuanya perempuan, yakni Makaziwe, Zenani Zeni, dan Zindziswa.

Putrinya Makaziwe anak Mandela dari pernikahan pertama, sementara Zenani dari pernikahan kedua dilaporkan sudah terlibat cekcok di awal tahun ini lantaran warisan bapaknya berjumlah Rp 19,5 miliar. Hanya putri ketiga Mandela tidak ambil pusing dengan kekayaan ayahnya.

Uang itu didistribusikan oleh Mandela ke yayasannya pada 2005. Dia ingin anak-anaknya mendapat duit dari karir mereka sendiri daripada hidup dari keuangannya.

Disebutkan Mandela telah mendistribusikan uang itu ke 27 yayasan setelah bertahun-tahun kehilangan kepercayaan pada para putrinya. Mandela lebih suka uangnya digunakan demi kelangsungan hidup anak-anak generasi selanjutnya dan bukan untuk kehidupan sehari-hari.

Namun Makaziwe dan Zanani menuntut akses penggunaan uang Mandela dan memulai genderang perang dengan dua direktur yayasan kepercayaan Mandela yakni pengacara George Bizos membela Mandela pada saat dia dihukum dan Tokyo Sexwale seorang tahanan bersama Mandela dihukum di Pulau Robben.

Dengan mendapat dukungan dari semua cucu Mandela, Zenani dan Makaziwe menuduh Bizos dan Sexwale telah menyalah gunakan kepercayaan dari ayahnya. Keduanya menabuh genderang perang terhadap dua lelaki itu serta pengacara bernama Bally Chuene dituding menggelapkan uang hasil penjualan barang-barang serta Mandela.

Kedua putri Mandela itu mengklaim Bizos, Sexwale, dan Chuene tidak pernah ditunjuk ayahnya menjadi pemegang saham dan direktur yayasan. Namun Bizos membantah tuduhan itu dan mengatakan sebagai kepalsuan.

Lewat royalti buku penjualan biografi saja, Mandela telah mengumpulkan Rp 195,6 miliar. Padahal keluarga Mandela telah mempunyai 110 perusahaan perdagangan. Ketiganya menuding kebanyakan perusahaan itu memakai nama besar Mandela.

Makaziwe bahkan mendirikan perusahaan minuman berbasis anggur dengan nama Mandela dan aktif menjadi direktur 16 perusahaan walau dia menegaskan beberapa diantaranya sudah tidak lagi ditangani. Atas tudingan penggunaan nama Mandela Makaziwe bersikeras jika nama itu sudah ada pada dirinya. "Ini nama kami sendiri. Kenapa harus minta maaf jika menggunakannya untuk kepentingan kami?" ujarnya sengit.

Makaziwe menegaskan setiap keluarga Mandela memakai nama itu dan memiliki hak atasnya. Dia juga mencontohkan banyak perusahaan minuman anggur memakai nama keluarga dan tak satu pun yang mempermasalahkannya. "Kami belum pernah berbuat satu hal pun memalukan nama Mandela," kata Makaziwe.

Selain anak-anaknya, para cucu Mandela juga mengontrol perusahaan lain dan seluruhnya juga dituding sama, menggunakan nama besar Mandela demi mendapatkan keuntungan.

Selain pertempuran sebab uang, kehidupan keluarga Mandela juga tidak harmonis. Tragedi meliputi mereka selama bertahun-tahun. Putranya Makgatho meninggal sebab AIDS pada 2005. Cucu paling besar dan anak dari Zenani tewas dalam kecelakaan mobil saat ngebut di jalan bebas hambatan pada 2010.

Sementara cucunya Mandla, anak Makgatho diketahui punya dua istri. Istrinya yang kedua masih remaja. Dia juga dituduh menjual hak liputan televisi untuk menyiarkan pemakaman kakeknya dengan bayaran Rp 4,4 miliar.