Meski bagian tubuh pesawat Malaysia Airline, MH370, telah ditemukan dan dipastikan bahwa pesawat jatuh di laut, kejadian persisnya masih dalam penyelidikan. Setelah sempat disangka jatuh di sekitar perairan Sumatera, potongan sayap yang disebut flaperon akhirnya ditemukan di Pulau Reunion, perairan selatan Samudera Hindia. Tim penyelidik yang diketuai oleh Australia ini masih mencari tahu bagaimana kecelakaan terjadi.

“Ini memang terobosan besar bagi kami dalam menuntaskan kasus hilangnya MH370. Kami mengharapkan akan ada lebih banyak obyek lagi yang ditemukan yang bisa membantu mengatasi misteri ini,” kata PM Malaysia, Najib Razak dalam konferensi pers di Kuala Lumpur (5/8).

Mesti nasib pesawat telah dipastikan, keluarga penumpang masih belum puas. Mereka menuntut penjelasan lebih lanjut. “Sekarang saya ingin tahu dimana tubuh utama pesawat jadi kami bisa mengeluarka penumpang dan mendapatkan black box jadi kita bisa tahu apa yang terjadi. Itu saja, bagi kami, itu penyelesaian sepenuhnya,” kata Jacquita Gonzales, istri chief pramugara Patrick Gomez yang bertugas di MH370.

"Saya masih belum puas. Masih ada banyak pertanyaan yang tak terjawab, begitu banyak lubang dalam teka-teki ini. Sampai hari ini kami tidak mendapat jawaban. Jangan beri kami flaperon. Tunjukkan lebih pada kami. Jawab pertanyaan-pertanyaan itu," lanjut Lee Khim Fat, suami pramugari Foong Wai Yueng.

Saat ini potongan sayap sedang dalam pengujian di Toulouse, Perancis. Pengujian tersebut meliputi bagaimana flaperon itu lepas, dari mana asal karang-karang yang menempel di potongan tersebut dan airline mana yang mengecat sayapnya dengan warna seperti itu.

“Pekerjaan yang sebenarnya belum lagi dimulai. Mereka akan menguji semua yang bisa dilakukan pada potongan logam itu: kerusakan, karang, tanda-tanda goresan di logam. Mereka akan memeriksa braket yang menahan flaperon itu untuk mengetahui bagaimana itu bisa patah,” kata John Goglia, mantan anggota U.S. National Transportation Safety Board.