Sebagai penduduk penganut adat ketimuran, maka adat kesopanan harus selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana sopan santun ketika menggunakan kendaraan umum seperti KRL. Namun kesadaran mengenai hal tersebut nampaknya semakin sukar ditemui di kehidupan sehari-hari.

Seperti perbuatan yang dilakukan oleh dua orang pemuda ini. Mereka duduk di kursi prioritas sedangkan ada dua orang tuna netra yang lebih membutuhkan tempat tersebut.

Kejadian tersebut dimulai ketika dua pemuda tersebut duduk terlebih dahulu di kursi prioritas dan kemudian dua orang tuna netra menghampiri mereka dan ingin menggunakan kursi tersebut. Kedua pemuda yang sedang tidur tersebut dengan enteng menyuruh kedua tuna netra ini untuk duduk dikursi biasa.

Padahal kursi prioritas digunakan untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkannya seperti ibu hamil, ibu dengan anak balita, lansia serta penyandang catat. Dengan melakukan hal ngga patut tersebut, sontak membuat kejadian tersebut dihujat banyak orang di media sosial.

Kursi prioritas memiliki stiker yang dengan mudah dibaca dan dikenali, sehingga ngga mungkin banget jika kedua pemuda ini ngga tahu jika kursi tersebut bukan untuk mereka. Jadi ini adalah mutlak masalah kesadaran diri dan toleransi.

Menurut Agus, seorang petugas keamanan KRL, hal tersebut sangat sering terjadi. Agus selalu memperingatkan orang untuk ngga duduk ditempat tersebut jika ngga memenuhi kriteria. Beberapa orang menurut, namun ada pula yang ngomel dan protes. Hal tersebut menjadi bukti jika kesadaran masyarakat udah pada tahap yang memprihatinkan.