Merdeka.com --- Posisi cadangan devisa patut diwaspadai di kuartal II 2014. Sebab, di dalam negeri, pola siklikal atau secara seasonal pada kuartal II, ada kewajiban pembayaran bunga, dividen dan juga royalti yang melahirkan tekanan besar terhadap neraca pembayaran.

Hal lain yang jadi pertimbangan untuk diwaspadai adalah sisi fiskal. "Perlu juga waspada untuk melihat fiskal karena pada fiskal APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara), nilai tukar asumsi berada pada Rp 10.500 per USD, sekarang realisasinya di atas Rp 11.000 per USD," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Kamis (10/4).

Tekanan fiskal yang dimaksud Agus Marto adalah perbedaan nilai tukar yang cukup tinggi. Lifting minyak yang realisasinya selalu di bawah target juga harus diwaspadai lantaran memicu impor minyak semakin tinggi.

Sebagai catatan, cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2014 tercatat mengalami penurunan tipis menjadi USD 102,6 miliar dari USD 102,7 miliar pada akhir Februari 2014.

Cadangan devisa tersebut sudah termasuk pembayaran surat utang atau obligasi pemerintah yang telah jatuh tempo. Jumlah obligasi yang harus dibayarkan lebih dari USD 2 miliar.

"Saya melihat cadangan devisa Indonesia akan terus tumbuh dengan sehat dan ini merupakan jaminan kepercayaan dunia yang semakin baik pada Indonesia," jelas dia.

Peningkatan cadangan devisa juga dipengaruhi derasnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia pada kuartal I-2014. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, aliran modal asing di tiga bulan pertama tahun ini cenderung lebih besar.

"Jadi saya melihat ekonomi Indonesia akan terus ada perbaikan," ungkapnya.