Kejayaan band rock alternatif asal Inggris, Oasis, buat sang mantan vokalis Liam Gallagher, layak untuk didokumentasikan dalam sebuah film yang menyuguhkan perjalanan sukses karirnya. Tak hanya soal hingar-bingar aksi panggung mereka, tapi film itu juga akan mengisahkan soal bagaimana karir musik rock n roll mereka dieksploitasi. Film itu juga mungkin akan seperti kilas balik yang berawal dari retaknya hubungan antar personil band fenomenal itu, yakni Liam dan sang gitaris yang juga adiknya Noel Gallagher, hingga mereka bubar. Perseteruan keduanya memuncak menjelang sebuah show di Paris tahun 2009. Meski Liam yang sekarang frontman band Beady Eye membayangkan film ini akan cukup menghibur, kita perlu menunggu komentar Noel. Pasalnya Noel beberapa waktu lalu juga memperlihatkan sikap skeptisnya atas mimpi Liam untuk menyatukan Oasis lagi. Namun, mantan gitaris sekaligus pencipta lagu-lagu hits Oasis tersebut mempersilahkan Liam untuk mewujudkan rencananya itu dan memainkan album Oasis yang bertajuk '(What's the Story) Morning Glory' secara keseluruhan tanpa harus melibatkan dirinya. Sebelumnya, Noel sempat mengakui bahwa ia mungkin terlalu terburu-buru memutuskan untuk keluar dari Oasis. Ia bahkan berharap untuk mengulang tur konser album fenomenal mereka yang dirilis tahun 1995 itu. Selepas dari kesibukan sebagai vokalis Oasis, Liam jalan sendiri dengan rumah produksinya, 1 Productions, untuk memproduksi film-film seperti 'The Longest Cocktail Party', yang nyeritain Derek Taylor, yang diambil dari buku