Dari namanya saja, loe pasti tahu kalau komoditas tembakau ini berasal dari tanah Deli atau Melayu yang ada di Sumatera Utara (Sumut). Meski tanaman tembakau bukan merupakan komoditas langka, namun hanya dari tanah Deli inilah, tembakau deli memiliki taste atau rasa yang berbeda dengan tembakau mana pun di dunia.

Keistimewaan spesialnya tembakau Deli ini, membuat pasar Eropa sejak masa Indonesia dijajah Belanda pun tetap menjadi konsumen besar untuk tembakau yang dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 2 tersebut.

Sejarah perkebunan Deli dimulai ketika langkah kerja Jacobus Nienhuys dan para pionir pengusaha perkebunan pertama kali menggarap atau membuka wilayah perkebunan di Sumatera Utara. Sejak awal dimulainya perkebunan, menunjukkan kemajuan dan perkembangan yang sangat pesat dimana pada tahun 1864 produksi tembakau telah meledak di pasaran Eropa.

Pada saat itu, dengan meminjam istilah Karl J. Pelzer (1976), Deli dikenal sebagai 'Dollar Land' dengan predikat sebagai penghasil daun pembungkus cerutu terbaik dunia mengalahkan tembakau dari Brazil dan Cuba. Usaha Jacobus Nienhuys terus berkembang dan pada tahun 1869, Nienhuys mendirikan Deli Matschapaij, suatu badan usaha yang membawahi sekitar 75 daerah perkebunan di Sumatra Timur yang berasal dari usahawan mancanegara seperti Jerman, Inggris, Swiss, Belgia dan Amerika. Pada tahun 1870 Deli Matschapaij memindahkan kantornya dari Labuhan ke Medan tepatnya di Jalan Tembakau Deli Sekarang.

Perkembangan ini turut mengubah kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kota Medan (saat itu Deli termasuk dalam wilayah Medan) pun berkembang sebagai sebagai pusat perdagangan dan pusat pemerintahan di wilayah itu. Tenaga kerja dari Tiongkok, India, dan Jawa pun didatangkan untuk menyokong perusahaan.

Pada buku berjudul Menjinakkan Sang Kuli, Jan Breman menulis pada 1873 jumlah kebun tembakau baru 13 dan pada 1876 menjadi 40 kebun. Lalu dalam buku Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979, Ann Laura Stoler melaporkan sudah ada 179 kebun tembakau besar dan kecil tumbuh di Sumatera Timur pada tahun 1889.

Namun memasuki abad 20, perkembangan industri tembakau di Deli mulai merosot. Sejak tahun 1930-an sudah banyak perusahaan yang beralih ke tanaman lain, dan hal ini menyebabkan produksi tembakau di Deli jadi berkurang. Pada tahun 1950-an, Deli Maatschappij dinasionalisasi oleh pemerintah Republik. Namun, saat itu perusahaan perkebunan tembakau hanya menyisakan tiga perkebunan yang masih beroperasi. Kemudian ketiganya beroperasi di bawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II.

Meski telah melewati masa jayanya, tembakau Deli masih menjadi salah satu yang terbaik untuk cerutu. Permintaan pasar dunia terhadap tembakau ini masih tinggi, meski Deli sendiri belum bisa memenuhi permintaan pasar tersebut. Kini Deli masih menjadi satu dari tiga penghasil tembakau untuk pasar cerutu dunia, selain di Jember dan Klaten.