Aksi membajak pesawat kini bisa terjadi dengan trik yang makin canggih. Menurut laporan Bloomberg News, sekelompok hacker bertanggung jawab atas insiden yang mengganggu beroperasinya pesawat-pesawat United Airlines, awal Juni lalu.

Mereka membajak Office of Personnel Management (OPM) maskapai penerbangan asal Amerika Serikat tersebut. Akibatnya, sekitar 22 juta orang di dalam dan diluar pemerintahan bisa terkena pengaruhnya. Dari sana, para hacker itu bisa mencuri berbagai data. Seperti social security number, tanggal lahir, alamat dan sekitar 1,1 juta sidik jari.

Meskipun para hacker itu mengincar orang-orang yang bekerja di pemerintahan, mereka tetap bisa mendapatkan akses ke teman dan keluarga para pekerja itu. Banyak aspek mengkawatirkan yang bisa mengarah ke pemerasan.

Pencurian data-data ini diperoleh dengan membobol data manifes penerbangan, yang menunjukkan asal dan tujuan penumpang pesawat-pesawat itu. United Airlines merupakan salah satu maskapai yang paling sering digunakan personel pemerintah Amerika Serikat.

Data-data yang dicuri ini memungkinkan Tiongkok untuk melakukan pengecekan silang pergerakan para personel itu di Amerika Serikat atau negaranya sendiri. Tapi meskipun tuduhan ini cukup serius, Amerika Serikat masih belum melontarkan tuduhan resmi ke pihak Tiongkok.