Jorge Lorenzo direkrut Ducati untuk menjadi rider yang bisa membawa mereka kembali ke tangga juara. Namun sejauh ini, perkembangan dari X-Fuera jauh dari memuaskan.

Meski begitu, mantan pembalap Yamaha tersebut masih punya harapan. Padahal sebelumnya ia seperti sudah mengibarkan bendera putih untuk bersaing dengan pembalap MotoGP papan atas lainnya. Kepada Motorsport, Lorenzo mengungkapkan banyak hal:

- Bagaimana kemajuan bersama Ducati setelah uji coba pramusim?

"Ada banyak hal berbeda di Valencia  yang membantu saya, yaitu winglet. Saya baru saja memenangi balapan terakhir dengan Yamaha. Saya dalam kondisi baik dan ban Michelin terasa lebih baik dengan layout trek tak terlalu menuntut pengereman,"

"Namun saya sangat kesulitan di Sepang, bahkan pada hari pertama mengejutkan saya. Saya paham harus memacu Ducati dengan cara berbeda dengan YZR M1, itu yang saya tidak duga sebelumnya. Di Australia, saya mulai mencoba balapan dengan gaya Yamaha," ungkapnya.

- Butuh waktu lebih panjang untuk memahami Desmosedici?

"Saya benar-benar tidak menduga butuh waktu lebih lama beradaptasi. Saya pikir gaya balapan membuka gas saat pengereman dengan cara yang halus bakal bekerja. Saya juga berpikir, saya boleh saja kehilangan beberapa kecepatan di tikungan dan akan kembali mendapatkan momen di trek lurus,"

"Tapi semua benar-benar berbeda, pengereman, masuk dan keluar tikungan dan lain-lainnya. Kami bisa saja mengubah posisi di atas motor, saya juga belum merasa nyaman dengan ergonomi dan tombol pada setang misalnya. Akan butuh prises lebih panjang dari yang saya duga," jawabnya.



- Perbedaan proses pengembangan Yamaha dengan Ducati?

"Orang Italia banyak disebut sebagai sosok yang hangat, tapi Luigi Dall'Igna ternyata berbeda. Dia dingin, metodis dan perfeksionis. Dia seperti campuran antara Jerman, Jepang dan Italia. Punya metode kuat dan saya pikir Ducati banyak berubah sejak kehadirannya,"

"Perbedaannya adalah, Gigi berada di level berbeda dibandingkan dengan engineer di Yamaha. Saya hampir tak bisa melihatnya karena dia menyatu dengan yang lain. Ketika pembalap masuk garasi, semua mendengarkan dia. Di Yamaha, engineer tertinggi tak terlalu banyak terlibat kontak dengan pekerja di garasi. Dall'Igna jauh lebih dekat dan itu membuat kita cepat menyelesaikan masalah".

"Saya pernah melihat garasi Marc Marquez yang dipenuhi para engineer. Saya sempat meminta itu, tapi tidak pernah terealisasi di Yamaha. Di Ducati, mereka memperlakukan saya dengan rasa kagum, berbeda ketika di Yamaha, saya layaknya karyawan lainnya".

- Melihat performa kurang oke sepanjang uji coba pramusim?

"Ini terjadi seperti di dunia sepakbola. Barcelona melawan Paris Saint-German yang kalah 4-0, tapi tiga minggu kemudian di Camp Nou, mereka menang 6-1. Itu sama kejadiannya seperti pada balapan motor. Regulasi berubah, winglet dilarang, Honda dan Yamaha sedikit meningkat. Ducati menang di Austria, trek yang cocok dengan motor kami. Tapi di Sepang, Ducati menang dalam kondisi basah. Keadaan seperti itu bisa terjadi, makanya banyak hal yang berubah,"

"Setelah winglet dilarang, kami harus temukan cara agar performa motor tetap baik. Targetnya adalah lebih kompetitif di setiap sirkuit dan memenangkan banyak balapan," tukasnya.

banner-ads