Farid Stevy Bicara Soal FSTVLST, Logo PT KAI Hingga Keripik Maicih

LAZONE.ID - Selain jadi vokalis band indie, Farid juga sukses sebagai perupa dan desainer. 

Farid Stevy Asta dikenal sebagai vokalis grup indie rock asal Yogyakarta FSTVLST. Mulai bermain musik sejak 2000 silam ketika masih kuliah di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, sejak kecil Farid memang sudah bercita-cita untuk menjadi seniman. 

Namun, ketertarikan Farid bukan hanya di soal musik. Dia juga dikenal sebagai perupa dan desainer. Berbagai karyanya mejeng di produk-produk lokal, seperti keripik singkong Maicih yang dikenal super pedas, desain di warung pizza Il Mondo milik Duta Sheila on 7 dan istrinya, serta yang mengejutkan adalah desain Farid yang dipakai di logo PT.KAI.

Di tahun 2011, Farid mengikuti kompetisi logo yang dibuka oleh PT KAI. Kontes yang diikuti oleh ribuan peserta desainer grafis seluruh Indonesia ini termasuk kontes desain logo yang sangat diminati karena memiliki nilai yang tinggi. 

Di sebuah studio desain Libstud Studio di Yogyakarta, ia membuatnya selama satu minggu. Logonya pun menang. "Saya terinspirasi membuat logo baru dari logo lama PT KAI, agar tidak yang lama tidak dilupakan," katanya. 


Karya terbarunya berbentuk tiga bidang garis horizontal sejajar dengan warga oranye dan biru. Dua baris paling atas yang berwana orange ada ruang kosong yang membentuk anak panah. Dua garis orange yang memiliki tanda panah sebagai simbol kereta yang melaju kencang menuju kemajuan. 

Dikutip dari situs pribadinya, Farid menampilkan sosok 'maicih' yang menghadap ke samping dengan latar belakang paduan beberapa ornamen visual. "Beberapa hal esensial logo tersebut tetap saya bawa ke logo baru, yaitu sosok 'maicih' yang kali ini menghadap ke depan dan pita dengan tulisan nama brand 'maicih' di bawahnya dengan pendekatan visual yang lebih sederhana," tulisnya. 

Sukses dengan desain ternama, Mei 2016 Farid baru saja menggelar pameran tunggal kelima di Kedai Kebun Forum, Jalan Tirtodipuran nomor 3, Yogyakarta. Berjudul 'Too Poor for Pop Culture, Too Hungry for Contemporary', dia membicarakan tentang cara pandangnya terhadap seni rupa kontemporer dan budaya populer. 

"Buat saya berpameran dan pentas bersama band adalah sebuah kemewahan. Karena ini sebuah kemewahan, saya tidak akan pernah menyia-nyiakannya begitu saja," tutup Farid.

(Dirangkum dari berbagai sumber)