Jay Subijakto, Sebuah Definisi Seni

LAZONE.ID - Seni itu tidak berbatas dan tidak beraliran, semuanya bebas. Karena semuanya itu merupakan sinergi antara kehidupan dengan alam, setidaknya itu menurut Jay Subijakto.

Talkmen.com --- Art is the lie that enables us to realize the truth. Seni itu tidak berbatas dan tidak beraliran, semuanya bebas. Karena semuanya itu merupakan sinergi antara kehidupan dengan alam, setidaknya itu menurut Jay Subijakto.

Takjub. Itu adalah satu kata saat Jay Subijakto memperlihatkan beberapa karya yang tersimpan dalam laptopnya. Dari mulai cuplikan beberapa pagelaran seni, sampai video perjalanannya ke pelosok Bumi ini. Perfeksionis dan di luar imajinasi. Itulah yang terbesit dalam pikiran kami saat bertandang ke rumah seniman kelahiran Ankara, Turki, 24 Oktober 1960 ini. Sebelumnya kami bersama tim fotografer sempat tersasar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan sembari mencari rumahnya. Akhirnya kepenatan kami menerjang kemacetan Ibu Kota siang itu terbayar dengan suasana sejuk dan asri saat memasuki kediaman Jay Subijakto.

Rumah bergaya minimalis tropis itu sejenak mengingatkan kami pada vila-vila di kawasan Seminyak, Bali. Sembari tim fotografer mempersiapkan peralatan, pandangan kami terpaku pada rak buku setinggi langit-langit yang berisi ribuan koleksi buku. Fotografi, perfilman, filosofi, ensiklopedia, kebudayaan, sampai arsitektur bisa kami temui di rak buku itu. Di tengahnya terpampang sebuah lukisan bergaya abstrak yang sangat imajinatif. Tak lama menunggu, Jay Subijakto turun dari lantai atas dengan membawa sebuah buku dan laptop. Dengan gayanya yang khas dan santai, ia mengajak kami dan teman-teman untuk melihat beberapa karyanya. 

Meresapi dan menghayati kekayaan budaya Indonesia adalah inspirasi terbesarnya.
  Puas menonton karya seni buatannya, akhirnya perbincangan kami dengan Jay pun berlangsung. Menampilkan sosok Jay Subijakto dalam profil Cool People kali ini adalah kepuasan tersendiri bagi kami. Bukannya apa-apa, di tengah arus globalisasi yang kian deras, tak sedikit seniman yang terseret arus 'pasar' dengan membuat karya-karya yang entah sangat kebarat-baratan, atau ter-Andy Warhol-kan hingga lupa akar mendasar dari seni yang ada di sekelilingnya. Namun tidak dengan Jay Subijakto yang seolah begitu teguh memegang pakem naluri untuk berkarya dengan satu kata, Indonesia. 

Tidak terbantahkan memang, karena saat menunjukkan 'secuil' karyanya ia begitu banyak mengangkat senyawa Indonesia di dalamnya. Ia begitu lihai melihat sisi dalam negara ini dengan begitu sempurna dari sisi pandang yang juga berbeda. kami sempat tergelitik saat ia menceritakan bagaimana ia mempertahankan suatu konsep iklan kecantikan, di mana sosok wanita yang ditampilkan tidak melulu harus cantik dan berkulit kuning langsat. Tanpa ragu, ia mengambil detail-detail wanita Indonesia di pedalaman yang masih menjunjung tinggi nilai tradisi. Semua yang alami, ia kemas dengan satu latar nilai-nilai budaya yang tetap utuh terjaga. Baginya, itulah kecantikan yang sesungguhnya.

Menjadi seniman itu tidak cuma berkarya, namun juga mengerti apa yang dibuatnya. Merasa gagal? Itu biasa.
  Kecintaannya pada Indonesia bukan tanpa alasan. Meski terlahir dari keluarga diplomat yang selalu berpindah dari satu negara ke negara lain, akar Indonesia memang ditanamkan pada dirinya sedari kecil. Ia tidak terjebak dalam budaya Barat, namun justru akar Indonesia tumbuh sebagai pedoman karakter yang berjalan selaras dengan kemajemukan. Komik Mahabarata, cerita-cerita wayang, langgam Jawa seolah begitu erat dengan diri Jay Subijakto hingga membentuk jiwa seni yang dominan dalam dirinya. Saat ditanya lantas mengapa pendidikan seni tidak menjadi pilihannya, ia hanya tersenyum simpul. Sarjana arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini rupanya punya pendapatnya sendiri.

Ilmu itu luas, paparnya. Dalam ilmu arsitektur ia menemukan satu kesatuan antara seni dan berlogika. Numerik, perhitungan, imajinasi, dan kreatifitas berpadu menjadi satu buah karya yang luar biasa. Sosok penting di balik pentas kesenian Matah Ati (2012) dan Ariah (2013) ini menerapkan seluruh hasrat dan imajinasinya hingga mengundang kekaguman dari seluruh orang yang menyaksikan. Kesuksesan pertunjukkan spektakuler itu pun lantas ia bawa bersama sang penggagas, Atilah Soeryadjaya, ke pentas internasional. Jay Subijakto bukanlah seniman yang mudah untuk memilah-milah apa jalur seni yang dipilihnya. Apa yang ia suka, itu yang ia kerjakan.

"Seni itu bebas. Seni itu napas. Sama seperti kehidupan, dalam bahasa Jawa kami menyebutnya "Urip iku urup", yang artinya hidup itu nyala. Hidup itu ladang karya, ladang imajinasi, ladang kreasi. Kalau ditanya aliran seni kami ini apa namanya, kami juga enggak tahu harus jawab apa. Kalau boleh dibilang aliran bebas, ya bebaslah. Menurut kami seni itu suatu hal yang tidak bisa dikotak-kotakkan, biarkan bila ada seniman yang mengatakan dirinya beraliran surealis, impresionis, atau apalah itu namanya."

Masuk akal apa yang diungkapkannya. Kreasi dan seni adalah satu wadah yang tidak bisa dibatasi. Semakin dibiarkan mengalir, semakin luar biasa penciptaannya. Bereksplorasi juga hal lain yang sangat digemari oleh Jay Subijakto. Dataran tinggi Tibet, Ancona, sampai Antartika adalah beberapa tempat yang pernah ia datangi untuk sekadar mencari inspirasi. Sambil kembali menarik laptop di dekatnya, ia kembali menunjukkan sebuah video mengenai dampak pemanasan global yang ia buat saat pelesiran ke Antartika. Anda mungkin tidak akan tahu apa itu pemanasan global sampai betul-betul melihatnya ke sana.

Tak henti Jay Subijakto bercerita mengenai apa saja, dan kami pun seperti mendapat ilmu yang begitu berguna. Cara pikirnya yang begitu filosofis sangat mendalam untuk diselami, dan pastinya, tak cukup dalam hitungan jam. Itulah Jay Subijakto, seorang seniman besar Indonesia yang begitu terkenal dengan karya-karya yang ikonik. Beberapa hari kemudian, kami pun berkesempatan lagi menyaksikan karyanya saat menghadiri peluncuran produk note ternama. Dengan terpesona, kami pun hanya membesit satu kata... spektakuler!