LAzone
Inspiring People

Modric, Si Pengungsi Perang Balkan Kini Bintang Paling Terang

  • 26 September 2018
  • 2273 views

Hidupnya dulu getir, tapi kini jadi pemain terbaik FIFA

LAZONE.ID -

Luka Modric sekali lagi membuktikan bahwa 2018 memang tahunnya meski gagal juara di Piala Dunia 2018. Jantung permainan dan kapten Kroasia ini menyabet penghargaan ke sekian kalinya yang menasbihkan ia pemain terbaik di tahun ini.

Namanya kini menjadi bintang paling terang menyingkirkan nama-nama langganan seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Playmaker Real Madrid ini baru aja menyabet raihan gelar pemain terbaik 2018 FIFA.

Bahkan Messi saja memvotingnya untuk gelar ini. Modric mengalahkan Mohamed Salah sampai Antoine Griezmann dalam perolehan suara.

Tapi Modric memang butuh perjuangan keras yang nggak banyak orang tahu untuk menjadi pesepakbola sukses sekarang ini. Dia bukanlah sekadar miskin seperti Ronaldo atau Messi di masa lalu.

Modric, Si Pengungsi Perang Balkan Kini Bintang Paling Terang

Masa kecil Modric lebih terenyuh diselingi banyak kegetiran. Ada darah dan airmata dalam perjalanan kariernya karena dia dulu tinggal di kawasan konflik yang dibombardir karena perang Balkan.

Modric lahir di kawasan Modrici (inspirasi namanya sendiri), 9 September 1985, dan tumbuh besar di kawasan Zaton Obrovački, sebuah desa di kawasan Zadar, Republik Sosialis Kroasia (sebelum menjadi Yugoslavia).

Eks pemain Tottenham Hotspur itu melalui era kecil harus merasakan keras dan panasnya kehidupan politik saat itu. Pada 1991, ketika usianya baru enam tahun, Perang Balkan meledak.

Hal itu memaksa Modric dan keluarganya jadi pengungsi. Momen paling membuatnya terpukul dan sedih tentu adalah kakeknya, Luka Sr yang tewas dibunuh pemberontak Serbia. Ia kehilangan sosok yang paling berharga, mengingat kakeknya yang justru mengasuhnya ketika sang ayah Stipe dan ibunya Radojka terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Di tengah momen menyedihkan itu, rumahnya rata dengan tanah. Lahannya habis dibakar akibat perang besar itu. Modric sekeluarga pun mengungsi ke Kroasia dan menghabiskan waktu di kawasan Kolovare.

Tapi Modric tak larut dalam mental yang sedih dan terpukul. Sepakbola membuat hidupnya lebih berarti.

Hotel di Kolovare pun menjadi saksi bagaimana Modric kecil terampil memainkan bola. Talenta Modric akhirnya ditampung sebuah akademi bernama NZ Zadar. Dia kemudian mengikuti seleksi bersama Hajduk Split, namun ditolak karena posturnya yang terlalu kecil.

Tapi klub Dynamo Zagreb pada 2002 mau memberinya peluang bermain selama semusim. Karier kemudian membawanya ke Zrinjski dengan label pemain pinjaman sebelum akhirnya Inter Zapresic juga sebagai pemain pinjaman.

Dilempar sana-sini, Modric benar-benar diperhitungkan sebagai playmaker jempolan semenjak membela Spurs. Di sanalah talentanya bersinar terang sampai akhirnya menjadi sekarang ini.

Dia adalah pilar vital Madrid di era pelatih manapun. Posisinya nggak kegeser sama siapapun meski bintang El Real silih berganti.

Modric kini menjadi salah satu pemain dengan bayaran termahal La Liga dan Madrid. Tapi ia tetap membumi. Mungkin karena pengalaman hidup getirnya itu tadi.

Di medsos, Modric nggak kayak pesepakbola lain yang pamer kemewahan harta dan show off sama mobil-mobil sport. Nyaris tak ada hal seperti itu di Instagramnya. Ia cuma pamer piala dan prestasi, dan itu keren!

Baca juga artikel pilihan untuk kamu...