Muhammad Ali: The Greatest of All Time

LAZONE.ID - Karier hebat yang diawali dari sebuah sepeda BMX.

Talkmen.com --- Karier hebat yang diawali dari sebuah sepeda BMX.

Float like a butterfly, sting like a bee.   Prestasi dan kontroversi Muhammad Ali berjalan beriringan sepanjang hidupnya.

Sebagai salah satu olah raga yang paling digemari di dunia, tinju memiliki banyak sosok idola yang menjadi inspirasi banyak orang. Sebut saja Mike Tyson, Sugar Ray Leonard, hingga Lenox Lewis, namun semua nama diatas tidak ada yang dapat menyaingi nama terbesar dalam dunia tinju, Muhammad Ali, Siapa yang tidak pernah mendengar namanya? Sosok petinju yang pernah diperankan Will Smith dalam film biopiknya yang berjudul 'Ali' ini merupakan idola seluruh dunia. Selain aksinya yang menawan diatas ring, Muhammad Ali juga merupakan sosok yang berani mengeluarkan pendapatnya. Meski kerap mengundang kontroversi, ia lebih banyak dikenang atas prestasinya di dalam dan di luar ring.

If you even dream of beating me you'd better wake up and apologize. ; -Muhammad Ali-

Pada tanggal 17 Januri 1942, lahir seorang bayi yang dinamakan Cassius Marcellus Clay Gepen-K Bane, Jr di Kentucky, Amerika Serikat. Bayi laki-laki itu merupakan anak dari seorang seniman bernama Cassius Marcellus Clay Sr. dan istrinya Odessa O’Grady Clay. Setelah kelahirannya, Cassius Jr. dibesarkan dikeluarga yang sederhana dan sangat beragama, selain di sekolah, Cassius banyak menghabiskan waktunya bermain-main bersama saudara-saudaranya. Saat ia berusia 12 tahun, Cassius kehilangan sepeda jenis BMX barunya saat ia sedang bermain. Merasa tidak terima, Cassius melapor ke seorang polisi bernama Joe Martin. Pada akhirnya Joe malah mengajari Cassius bertinju agar dapat menghajar si pencuri sepeda, Cassius kecil sangat antusias dan dengan penuh semangat ia berlatih tinju di bawah bimbingan sang polisi yang ternyata juga seorang pelatih tinju amatir.

Ya, itulah sejarah kecil tentang pengenalan Cassius Clay kepada dunia tinju, bagi Anda yang belum mengenali namanya, Cassius Clay adalah nama asli dari sang legenda tinju, Muhammad Ali. Seseorang yang kelak menjadi legenda besar dalam dunia olah raga. Setelah pengenalan awalnya kepada dunia tinju, Cassius tidak pernah berhenti, ia jatuh cinta kepada olah raga tersebut dan mengisi hari-harinya dengan latihan. Pada akhirnya ia disarankan untuk berlatih bersama Chuck Bodak, mantan petinju profesional yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Bersama Chuck, karier Cassius semakin maju, ia berhasil memenangkan titel juara Kentucky enam kali, dua kali juara nasional Golden Gloves, dan juga Amateur Athletic Union. Puncaknya adalah saat ia terpilih mewakili Amerika di Olimpiade 1960 di Roma.

Pada pertandingan final tinju kelas bulu ringan, Cassius bertarung melawan Zigy Pietrzykowski asal Polandia,Cassius berhasil membawa pulang medali emas. Selain medali emas, ada cerita unik dari perjalanannya ke Roma, Cassius ternyata sangat takut untuk naik pesawat terbang hingga ia memaksa untuk membawa parasut di pesawat.

Sepulangnya dari Olimpiade, Cassius memulai kariernya sebagai petinju profesional pada bulan Oktober 1960, pertandingan pertamanya adalah melawan Tunney Hunsaker dimana Cassius memenangkan pertandingan setelah enam ronde. Kemenangan tersebut mengawali karier luar biasa miliknya, sampai tahun 1963, ia mencatat kemenangan berturut-turut 19-0 dengan 15 diantaranya diakhiri dengan knockoutSeiring dengan sejumlah kemenangan yang ia catat, Cassius mulai menunjukan perilaku yang arogan, ia bahkan meninggalkan tempatnya berlatih karena ia diminta ikut membersihkan gym tersebut. Setelah kejadian tersebut ia merekrut Angelo Dundee untuk menjadi pelatih barunya, ia juga menginginkan petinju legendaris Sugar Ray Robinson untuk menjadi manajernya namun ditolak.

Biar bagaimana kariernya terus melonjak, dengan rekor pertandingan yang luar biasa, ia mendapat kesempatan untuk menantang juara dunia kelas berat, Sonny Liston. Sebagai petinju muda, Cassius jelas bukan unggulan, bahkan mulutnya yang biasanya berkoar-koar menjelang pertandingan tertutup rapat, ia hanya mengatakanstrateginya untuk melawan Liston adalah dengan 'terbang seperti kupu-kupu dan menyengat bagai lebah'.Dalam sesi timbang berat badan sebelum bertanding, denyut nadi Cassius terhitung mencapai 120, lebih dua kali lipat dari denyut nadinya yang biasa sebelum bertanding yaitu sekitar 54.

25 Febuari 1964, inilah tanggal yang menjadi bagian sejarah dunia karena Cassius Clay untuk pertama kali merebut gelar juara kelas berat dunia setelah menang TKO atas Sonny Liston pada ronde ketujuh dari 15 ronde yang direncanakan di Florida, Amerika Serikat. Saat itu, Liston harus mundur dari pertarungan karena mengalami cedera bagian leher.

Ali sempat menjatuhkan Liston pada ronde pertama.  

Setelah mengalahkan Liston di tahun 1964, Cassius secara mengejutkan mengumumkan agama dan nama barunya bernama Muhammad Ali setelah masuk ke kelompok Nation of Islam. Di antara tepuk riuh para penonton dan kilatan-kilatan lampu kamera, Cassius berdiri di depan jutaan penonton yang mengelilingi ring dan para penonton layar televisi. Ia mengucapkan mengumumkan pergantian namanya menjadi Muhammad Ali Clay dan menyatakan ia telah menjadi seorang Muslim.

"Aku meyakini bahwa aku sedang berada di depan sebuah kebenaran yang tak mungkin berasal dari manusia," ujarnya.

Ali mengungkapkan, kepindahannya ke agama Islam adalah hal yang wajar, ia meyakini bahwa Islam membawa kebahagiaan untuk semua orang. Menurutnya, Islam tidak membeda-bedakan warna kulit, etnis, dan ras.

"Semuanya sama di hadapan Allah. Yang paling utama di sisi Tuhan mereka adalah yang paling bertakwa." Katanya lagi.

Ali bersama tokoh Islam di Amerika, Malcolm X.  

Seperti yang diketahui, Amerika pada masa tersebut memang masih dihadapi dengan kasus rasisme, tidak terkecuali untuk Ali, semenjak ia kecil hingga telah berprestasi sekalipun, ia sangat sering menerima pelecehan yang rasis. Bahkan dalam komunitas yang beragama sekalipun ia banyak menerima perilaku negatif tersebut,namun semuanya berbeda saat ia bertemu dengan kelompok Muslim pimpinan Malcolm X yang dianggap Ali lebih menerimanya tanpa memperdulikan ras dan etinsnya.

Pada tahun 1965, Ali lagi-lagi menuai kontroversi, ia sempat menolak untuk mengikuti wajib militer yang diterapkan oleh Amerika Serikat untuk menghadapi perang Vietnam.

"Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger" katanya saat itu.

Akibat kejadian tersebut, Komisi Tinju sempat melarang Ali untuk bertarung selama empat tahun di Amerika dan mencabut gelar juara dunia miliknya. Namun setelah melakukan banding, Ali pada akhirnya diperbolehkan untuk bertarung lagi di Amerika. Perjuangan Ali menolak berpartisipasi dalam perang Vietnam menjadi inspirasi banyak warga Amerika Serikat untuk menolak memberi dukungan atas perang tersebut.

Setelah masa vakum dari dunia tinjunya berakhir, Ali melanjutkan karier positifnya. Kemenangan demi kemenangan berhasil ia raih. Tetapi pada Maret 1971, Ali harus kalah angka dari Joe Frazier di New York dan harus kehilangan gelar juara dunia miliknya, inilah kekalahan pertama Ali dalam karier profesionalnya. Namun tiga tahun berikutnya, petinju berjuluk 'The Greatest' ini kembali merebut gelar juara WBC dan WBA setelah mengalahkan George Foreman di Kinsasha, Zaire.

Ali vs Foreman di Rumble in the Jungle  

Dalam laga bertajuk Rumble in the Jungle, Ali menantang sang petinju muda yang sedang dalam kondisi dan usia yang prima. Foreman sebenarnya lebih diunggulkan, namun Ali menggunakan taktik untuk membuat Foreman lelah karena menyerang terus-menerus selama tujuh ronde. Mendominasi pada ronde-ronde awal, Foreman akhirnya kelelahan, sengatan kupu-kupu khas Ali akhirnya terjadi di ronde delapan ketika Ali menghempaskan Foreman dengan KO. Mengalahkan semua prediksi, Ali ternyata sukses merebut kembali sabuk juara dunia kelas berat miliknya

Tidak lama setelah pertarungan itu, Ali sempat dinyatakan terkena penyakit Parkinson, namun promotor Don King merahasiakan hasil tes medis tersebut. Setelah laga melawan Holmes, Ali melakukan cek medis ulang. Hasilnya, 'The Greatest' positif terkena penyakit Parkinson. Namun pada 11 Desember 1981, Ali kembali naik ke atas ring melawan Trevor Berbick di Bahama. Meski demikian, Ali berusaha untuk memberikan perlawanan kepada Berbick, tapi kalah di ronde ke-10. Ini merupakan pertandingan terakhir Ali sepanjang kariernya.

I am the greatest, I said that even before I knew I was.  -Muhammad Ali-

Setelah pensiun, Ali banyak menjadi pembicara di dalam seminar-seminar yang membahas olah raga tinju, tentang rasisme, bahkan penyakitnya Ia juga sering terlibat dalam dunia politik. Bahkan pada tahun 1991, ia pergi ke Iraq untuk bertemu Saddam Hussein demi melakukan negosiasi untuk membebaskan beberapa warga negara Amerika yang dijadikan sandera. Sepanjang hidupnya Muhammad Ali memang memiliki pengaruh besar, Ali yang kerap menyuarakan isi hatinya secara jujur sangat dihormati siapapun di dunia. Saat inipun Muhammad Ali masih menjadi sosok inspirasi banyak orang di dunia ini.