Shanina Shaik, Model Seksi Berkulit Eksotis yang Jadi Korban Bully

LAZONE.ID - Shanina Shaik model seksi yang berhasil meraih sukses walau di-bully.

Isu rasisme hingga kini masih terus merajalela, bahkan di dunia hiburan. Shanina Shaik adalah salah satu 'korban' rasisme karena warna kulitnya.

Tumbuh besar di Australia, gadis keturunan Australia dan Pakistan tersebut mengaku kerap di-bully semasa kecilnya karena warna kulitnya yang berbeda dari teman-teman sekolahnya. Shanina bahkan kerap merasa seperti tak diterima di negaranya sendiri, hingga memutuskan untuk bolos sekolah karena tidak percaya diri.

"Masa-masa sekolah adalah masa-masa yang gelap bagiku. Mereka memanggilku dengan sebutan 'nigga', tak mengundangku ke pesta. Hal-hal seperti itu kemudian membuatku tak pergi ke sekolah selama berbulan-bulan. Aku hanya ingin bersembunyi kala itu," ungkap Shanina dalam sebuah wawancara belum lama ini.

Namun atas jasa sang ibunda, dan orang-orang di sekitarnya, Shanina mendapatkan dukungan lebih untuk menghadapi kasus bullying yang dihadapinya. Seperti saran sang ibu, wanita berusia 25 tahun itu mencoba untuk tak mempedulikan apa kata orang-orang yang tak suka padanya di sekolah dan menganggap mereka tidak ada.

"Hal itu tentu saja membuat mereka frustasi karena aku sudah tidak peduli. Para tukang bully hanya ingin melihat reaksimu saja. Dan ketika kau bereaksi tak seperti yang mereka harapkan, maka mereka akan pergi dengan sendirinya," lanjut Shanina.

Dukungan keluarga tersebut kemudian membuat Shanina mencoba peruntungan di dunia modeling dengan memanfaatkan warna kulitnya yang berbeda sebagai sebuah kelebihan. Dan ternyata, warna kulitnya berhasil membuat gadis kelahiran Australia itu mendapatkan kontrak modeling di usia delapan tahun dengan membintangi sejumlah iklan, serta mengikuti berbagai kompetisi modeling di Australia saat usianya beranjak 15 tahun.

"Aku sangat suka berada di depan kamera sejak pertama kali fotoku diambil. Ketika aku mulai terjun ke dunia modeling untuk pertama kalinya, aku merasa sangat tak percaya diri. Tapi di saat yang bersamaan, aku sangat menyukai pekerjaanku," ujarnya.

Di usianya yang masih 17 tahun, Shanina berhasil mendapatkan kontrak catwalk pertamanya lewat acara peragaan busana Autumn/Winter 2009 di New York. Ia pun diminta untuk menjadi model Yeohlee, Abaete, Projet Runway, hingga Trovata.

Tak hanya di catwalk, wajah Shanina pun kerap muncul di sejumlah majalah, seperti Level Magazine, Seventeen Magazine serta Men's Health dan Vogue. Hingga pada 2012, sang model pun dikontrak oleh Victoria's Secret untuk mempromosikan produk pakaian dalammnya, dan menjadi model asal Australia keenam yang muncul di ajang peragaan busana Victoria' Secret.

"Industri fashion memang selalu vokal mengenai masalah rasisme dan aku bahagia bisa menjadi salah satu topik pembicaraan di Australia. Sedikit demi sedikit, dunia sudah mulai berubah. Namun kita harus tetap berusaha untuk mengubah lebih jauh. Aku adalah keturunan Pakistan dan Arab Saudi, jadi muncul di majalah-majalah besar adalah sebuah pencapaian yang luar biasa untukku. Sedikit demi sedikit, persepsi orang-orang Australia terhadap kami pun mulai berubah. Dan aku tak bisa lebih bangga lagi dari ini," pungkasnya.