Sisi Lain Soekarno Yang Perlu Kamu Ketahui

LAZONE.ID - Soekarno dikenal memiliki karakter yang tegas, nasionalis dan berjiwa patriotis yang tinggi. Namun ternyata ada sisi lain sang proklamator ini yang bisa membuat kamu sedikit terkejut.

Soekarno dikenal memiliki karakter yang tegas, nasionalis dan berjiwa patriotis yang tinggi. Namun ternyata ada sisi lain sang proklamator ini yang bisa membuat kamu sedikit terkejut.

Setelah berhasil memproklamirkan kemerdekaan akhirnya Soekarno diangkat menjadi pemimpin. Banyak yang terjadi hingga akhirnya ia harus turun pada tahun 1965. Banyak fakta yang terjadi selama masa kepemimpinannya, termasuk tuduhan masyarakat jika ia adalah seorang diktator.

Pemimpin yang terlalu lama memimpin maka akan cenderung menjadi diktator, ungkap sebagian orang. Dan nampaknya hal tersebut terlihat ketika ia memimpin selama 20 tahun tersebut.

Kala masih menjabat sebagai presiden, Soekarno banyak mendapatkan ancaman pembunuhan. Sejak saat itu Soekarno yang dulu dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan setia kawan, kemudian menjadi sangat keras terhadap lawan politik yang berseberangan pemikiran dengan dirinya. Ia kerap melakukan penangkapan hingga pemberitaan surat kabar yang cenderung miring kepada lawan politiknya tersebut.

Salah satu penyebabnya mungkin adalah ketidaksukaan beberapa pihak mengenai pengangkatan Soekarno sebagai perdana menteri sekaligus kepala negara. Dengan sistem kepemimpinan seperti itu, maka Soekarno tidak akan mudah untuk diganti.

Agar kedudukan Soekarno mampu untuk bertahan dalam waktu yang lama, maka tokoh politik yang dulu bahkan menjadi rekan yang saling berdampingan pada awal kemerdekaan, kemudian banyak yang ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Beberapa dari mereka adalah Sutan Sjahrir, M. Roem, Prawoto Mangkusasmito dan beberapa tokoh yang lain. Mereka dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang sebenarnya ngga pernah terbukti.

Sjahrir yang ikut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia itu pun akhirnya ditangkap dan dipenjarakan. Kesehatan Sjahrir semakin memburuk ketika di dalam penjara. Dan pada tahun 1966 ia meninggal setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit di Swiss.

Ketika ditanya mengenai kediktatoran dirinya, Soekarno dengan serta merta menepisnya. Ia mengemukakan jika ia tidak memimpin negara ini sendiri. Ada badan demokrasi yang turut ikut dalam proses pemerintahan misalnya MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) dan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Jika orang sudah mencap dirinya seorang diktator, maka biarlah ia menjadi seorang diktator yang berbuat kebajikan, imbuh Soekarno.