Sundar Pichai, Bos Baru Google

LAZONE.ID - Lahir dan besar dari keluarga sederhana, enggak punya telpon, TV dan mobil. Sekarang, salah satu orang India dengan bayaran terbesar di industri teknologi AS.

Lahir dan besar dari keluarga sederhana, enggak punya telpon, TV dan mobil.
Sekarang, salah satu orang India dengan bayaran terbesar di industri teknologi AS.

Tiga hari lalu Google mengumumkan membuat perusahaan indk baru, Alphabet. Artinya, ada banyak perubahan dalam struktur organisasinya. Larry Page dan Sergey Brin yang mendirikan Google menjadi chief executive dan presiden Alphabet. Dan mulai 10 Agustus, Google pun punya bos baru, Sundar Pichai.
Dengan jabatan barunya, pria kelahiran Chennai 43 tahun lalu inipun menjadi salah satu dari sedikit orang India dengan bayaran tertinggi di industri teknologi Amerika Serikat.Jabatan terakhirnya sebelum menduduki pucuk organisasi Google Inc. adalah Product Chief Google.

Pichai bergabung dengan Google pada 2004 dan salah satu produk yang dibidaninya adalah browser Google, Chrome dan salah satu operating system (OS) paling populer di dunia, OS Android. Ia sekarang menjadi orang yang bertanggung jawab atas berbagai produk utama Google, termasuk ‘bertempur’ melawan Facebook untuk mempertahankan dominasi YouTube. Lalu, siapa sih sebenarnya bos baru salah satu raksasa teknologi ini?

Perjalanan karir Pichai membuktikan salah satu bukti hasil kegigihan dan dominasi India di dunia IT. Ia lahir dan sekolah di Chennai, menjadi kapten tim kriket dan menjuarai sejumlah kejuaraan regional. Di bangku kuliah, ia merupakan salah satu murid terpintar di Teknik Metalurgi di Institut Teknologi India di Kharagpur. Lulus dari sini ia mendapat beasiswa prestisius di salah satu universitas paling bergengsi di Amerika Serikat, Standford.

Dalam sebuah profil yang ditulis majalah Bloomberg, digambarkan Pichai berasal dari keluarga yang sederhana. Mereka tinggal di apartemen dua kamar, Pichai tidak punya kamar sendiri. Ia tidur di ruang tengah bersama adik laki-lakinya. Keluarganya bahkan enggak punya telpon sampai ia berumur 12 tahun, tidak punya TV ataupun mobil. Harga tiketnya untuk berangkat kuliah ke Amerika saja lebih besar daripada gaji ayahnya selama setahun.

Tapi ayahnya yang bekerja untuk General Electric Company, menanamkan benih teknologi ke dalam otak Pichai kecil. “Aku biasa pulang dan bercerita banyak tentang pekerjaanku dan tantangan yang kuhadapi,” kata ayahnya, Regunatha Pichai dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg.