Duka di Atap Dunia

LAZONE.ID - Nyawa adalah taruhan saat pendakian ke Puncak Everest. Di atap dunia itu sudah ratusan pendaki menghembuskan nafas terakhirnya.

Loe yang pernah liat film Everest pasti merinding. Di balik dahsyatnya rute pendakian, terlihat pula perjuangan yang tak mudah. Suhu yang dingin, cuaca yang ekstrim dan oksigen yang tipis bisa mencabut nyawa manusia.

Puncak Everest yang berada di Nepal adalah puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian 8.848 mdpl. Pendaki dari berbagai negara bermimpi untuk bisa mendakinya, walau mereka tahu, nyawa menjadi taruhan. Maka dari itu, pendakian ke Everest butuh biaya sangat besar dan pelatihan super berat.

Di Everest ada zona namanya Death Zone yang diartikan Zona Kematian. Lokasinya di ketinggian 8.000 mdpl, yang medannya hanya tanah, batu dan salju. Sudah nggak ada orang yang tinggal, binatang apalagi pepohonan.

Sudah ada 200 jenazah di sana dengan posisi berbagai macam. Ada yang sedang duduk, meringkuk sampai tengkurap. Jenazah-jenazahnya masih menggenakan peralatan gunung yang lengkap.



Tahu nggak loe, apa bahayanya mendaki Puncak Everest? Pertama itu suhu yang super dingin dengan kisaran minus 30 derajat Celcius. Loe main ke Puncak di Jawa Barat sana udah kedingin kan kalo malem, itu aja suhunya nggak sampe 5 derajat celcius. Lah ini, minus puluhan derajat celcius.

Kenapa jenazah di sana nggak diturunin? Ongkosnya sangat mahal. Butuh biaya 2.000 Dollar Amerika untuk menurunkan jenazahnya lewat bantuan sherpa (porter di sana) atau pakai helikopter. Beberapa jenazah pun dibungkus bendera kebangsaannya agar jadi penanda darimana dia berasal.

Abis itu cuaca di sana nggak tentu. kadang cerah, tapi hitungan detik awan tebal menyelimuti langit. Terakhir adalah oksigen yang menipis dan membuat stamina jadi habis. Death Zone ini semacam duka di atap dunia.