Sejarah Pilu Manusia Rantai di Sumatera Barat

LAZONE.ID - Lubang Mbah Soero adalah bekas tambang batubara dari zaman Belanda

Di Sumatera Barat, Sawahlunto tepatnya terdapat sejarah pilu manusia rantai. Di zaman penjajahan Belanda dulu, masyarakatnya dipaksa bekerja tanpa upah di tambang batubara. Sesuai namanya, mereka dirantai dan diperlakukan tidak manusiawi.

Kisah manusia rantai tersimpan di Lobang Mbah Soero yang beralamat di Jl Muhammad Yazid, Lembah Segar, Kota Sawahlunto. Dari pusat Kota Sawahlunto, kamu bisa berjalan kaki karena sebenarnya kota ini memang kota kecil.

Lubang tersebut merupakan bekas tambang batubara yang dulu digunakan oleh pemerintah Belanda. Tapi sebelum sampai di sana, kamu harus bayar tiket dulu di Info Box Galeri Tambang Batu bara & Lobang Mbah Soero seharga sekitar Rp 10 ribu-an.
 
 
Di Info Box, kamu juga bisa melihat galeri foto-foto dokumentasi manusia rantai. Tak sampai di situ, rantai-rantai
yang bekas digunakan untuk mengikat mereka masih ada dan terjaga baik sampai sekarang. Barulah kamu bisa menjelajahi Lubang Mbah Soero dengan pelengkapan sepatu boot dan helm pelindung.

Sejarahnya begini, sejak tahun 1898 sampai sekitar tahun 1930, lubang tersebut digunakan pemerintah kolonial Belanda untuk menambang batu bara. Yang bekerja, tentu saja para pribumi dan tahanan-tahanan politik. Tiap hari, mereka dipaksa bekerja, tanpa upah, kehidupan layak dan tangan serta kakinya dirantai.

 
Dengan dirantai, penjaga setempat bisa mengontrol dengan mudah dan mencegah kabur. Pilunya lagi, kabarnya
banyak orang rantai yang meninggal ketika bekerja dan mayatnya ditinggalkan begitu saja di dalam lubang atau ditimbun seadanya di dalam tanah.

Traveling, bukan sekedar happy-happy saja. Traveling seolah menjadi guru kita, untuk mengenal kebudayaan, bentangan alam sampai nilai sejarah di suatu destinasi.