Kualitas gambar sekelas kamera profesiona, bisa ditempel dimana aja, diajak nyebur sampai 60 meter hingga kebanting dari ketinggian 2 meter.

Action camera dirancang untuk satu tujuan, mengabadikan momen dari sudut, posisi, ataupun kondisi yang hampir tidak mungkin dan tidak bisa dilakukan dengan kamera biasa. Kamera aksi juga biasa disebut point-of-view (POV) camera.
Berbeda dengan kamera konvensional yang dioperasikan menggunakan tangan, sebagian besar action camera dikenakan di tubuh atau perangkat tertentu. Misalnya di kepala, dada dan lengan. Atau di handlebar sepeda gunung dan motor cross, di ujung papan surfing, di helm, di kap mobil, dan tempat-tempat lainnya. Dari situlah istilah POV (sudut pandang orang pertama) muncul.

”Kamera action memang menarik minat para pecinta adrenalin atau pelaku olah raga ekstrem seperti saya,” ujar Andi Akbar, seorang Motorcycle Freestyler. ”Dengan kamera ini pelaku olah raga ekstrem dapat mengabadikan video, dan membagi sensasi olah raga yang mereka rasakan ke orang lain. Fungsinya juga beragam, mulai merekam video High Definition, memotret biasa, memotret dengan selftimer, hingga membuat timelapse ataupun memotret secara cepat (burst).”
Walaupun ukurannya sangat compact, tapi fitur yang dimiliki kamera ini sangat advance. Bahkan sudah memenuhi standar industri televisi ataupun video klip. GoPro Hero3 Black Edition, misalnya, telah dilengkapi dengan fitur rekam 4K. Resolusi 4K (3840 pixels × 2160 pixels) atau ultra high definition saat ini hanya eksis di digital sinema (film bioskop). Bayangkan sebuah kamera yang gak lebih besar dari ponsel namun memilki kemampuan untuk merekam video yang sesuai standar layar perak!

Nah, berikut ini adalah beberapa model action camera yang tersedia di pasar Indonesia. Meski fungsinya beda-beda tipis bro, tapi masing-masing memiliki desain, fitur, dan aksesoris serta rentang harga yang berbeda. Mana yang jadi pilihan loe?

JVC adiXXion GC-XA1

Ukuran compact, JVC adiXXion GC-XA1 sudah punya layar LCD mini 1,5 inci,. Ini jadi pembeda dibandingkan model action camera lainnya. Kamera ini juga dapat dibawa nyebur sedalam 5 meter, tahan jatuh dari ketinggian 2 meter. Anti air, dingin, tanpa menggunakan housing tambahan. JVC adiXXion GC-XA1 juga mampu merekam video full HD 1920×1080 pada 30 fps atau 1280×720 pada 60 fps. Fitur lainnya adalah koneksi wi-fi (dapat terhubung ke smarthone), image stabilizer, sensor CMOS 5 MP, berat 126 gram.

Drift HD Ghost

Ukuran compact dan desain kokoh. Action camera yang umumnya digunakan di helm ini memiliki resolusi foto 9 MP sensor CMOS, mampu merekam video 720p pada 60 fps dan 1080p (1920 x 1080) pada 30 fps. Lensanya 170 derajat wide angle, dengan layar LCD 1,5 inci. Kamera tahan air, sudah dilengkapi remote kontrol bawaan, serta mounting ke kacamata.

Sony HDR-AS10 HD (Sony Action Cam)

Salah satu yang mendapat banyak pujian untuk seri wearable camcorder. Lensanya sudah Carl Zeiss f/2.8 dengan sudut 120 derajat hingga 170 derajat, sensor gambar CMOS Exmor R 16MP, sudah dilengkapi fitur Wi-fi, serta mampu bertahan hingga kedalaman 60m. Berbagai aksesori tambahan juga tersedia untuk camcorder ini. Kamera ini memiliki LCD digital, tipis, untuk mengubah pengaturan dan menavigasi sistem menu. Dibekali pula dengan casing waterfproof yang bisa dibawa hingga 60 meter.

GoPro HD Hero 3 Black Edition

Inilah pencetus tren action camera: GoPro. Model terbaru, line up GoPro HD Hero 3 lebih 30% kecil, 25% lebih ringan, dan 2x lebih canggih dibanding GoPro HD 2. Kamera tersebut telah dilengkapi housing waterproof hingga 60 meter, serta koneksi Wi-fi (dapat digunakan dengan aplikasi smartphone). Hero 3 Black Edition juga superior dengan fitur rekam video 1440p pada 48 fps, 1080p di 60 fps, dan 720 p di 120 fps. Sensornya sudah 12 MP, serta memiliki pilihan aksesoris yang sangat beragam. Jika model ini terlalu mahal, tersedia piliha White Edition dan Silver Edition yang masing-masing dibanderol Rp2,6 juta dan Rp3,850 jutaan.