Merdeka.com --- Jika ada band paling sering ke Israel bisa jadi Deep Purple jawabannya. Band rock asal Inggris ini paling tidak sudah empat kali menggelar konser di Negeri Bintang Daud itu. Penggemar mereka bejibun di sana. Meski demikian mereka menegaskan tidak satu pun unsur politik membuat mereka kerap mendarat di Israel.

Seperti dilansir harian Jerusalem Post (12/8), bagi para personil Deep Purple, musik adalah musik dan bukan suatu hal bisa disusupi oleh politik dan kekuasaan. Namun musik juga sebuah ungkapan mereka tidak menampik itu.

"Kami hanya mencoba profesional. Mereka membatalkan konser di Israel pengecut sebab beralasan negeri itu menjajah Palestina. Kami tidak peduli dengan itu semua. Kami hanya ingin bermusik," ujar pentolan sekaligus penggebuk drum Deep Purple Ian Paice.

Paice juga mengimbau agar musisi sejagat tidak mencampur adukkan musik dengan politik. "Mereka tidak datang ke Israel sebab menilai negara itu menjajah negara lain, bisa dikatakan, Palestina, sama dengan pengecut. Musik adalah musik," ujar Paice.

Sejak menggelar konser pertama mereka pada 1991 di Ibu Kota Tel Aviv band ini seolah kecanduan mengunjungi Israel. Jika mereka menggelar tur, nama Negeri Bintang Daud masuk dalam daftar negara wajib dikunjungi.

Buat mereka solidaritas musisi dalam politik tidak pada tempatnya. Justru musik lah seharusnya mempengaruhi politik dan bukan sebaliknya.