Talkmen.com --- THR: bonus atau kewajiban?

Pemakaian uang THR harus tepat guna agar tidak salah sasaran.   Mungkin Anda tidak menyadari bahwa uang THR akan memiliki manfaat yang berkali lipat jika tepat digunakan.

Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata, hati Anda pasti sedang bergembira karena baru mendapatkan jatah Tunjangan Hari Raya atau yang akrab dikenal dengan sebutan THR. Namun, siapa sangka jika uang THR itu sebetulnya bukan merupakan uang bonus yang dapat dipakai seenaknya. Ada beban moral dan finansial di dalamnya. Anda mungkin tidak menyadari jika prioritas pemakaian uang THR adalah untuk pembayaran cicilan utang dan tabungan, baru setelah itu, Anda boleh membelanjakannya (itupun dalam batas-batas kewajaran).

Beberapa orang tak jarang mengeluhkan, uang THR itu bagaikan angin lalu yang besar jumlahnya, cepat hilangnya. Kita harus berpikir pasti ada yang salah dalam strategi penggunaan uang THR. Pasti ada trik-trik khusus di mana uang THR itu bukan hanya menjadi uang 'kesenangan' saja, melainkan juga investasi kecil yang bisa berdampak jangka panjang. Prinsip dan kedisiplinan diri memang diperlukan dalam pengelolaan finansial pribadi. Bagi Anda yang bekerja di bidang banking atau accounting, coba tanya pada diri sendiri, mengelola uang perusahaan yang jumlahnya milyaran saja bisa, sedangkan mengatur keuangan pribadi yang jumlahnya tak seberapa kesulitan?

Godaan yang datang bertubi-tubi memang datang bersamaan saat uang THR masuk ke saku Anda. Apa saja? Macam-macam. Dari mulai persiapan Lebaran seperti bingkisan untuk kolega, kebutuhan sandang saat Idul Fitri, sampai Midnight Sale (ada saja pacar atau istri yang merengek untuk menyambangi mal yang sedang menggelar midnight sale ini). Semuanya itu harus diantisipasi secara cerdik agar, minimal, uang THR itu pemakaiannya tepat sasaran dan bukannya 'lebih besar pasak daripada tiang'. Dengan strategi yang tepat guna, uang THR sebetulnya dapat digunakan untuk membelanjakan kebutuhan Anda yang sulit dipenuhi pada bulan-bulan biasa.

Pertanyaannya sekarang, apakah semua THR itu harus digunakan untuk membeli barang-barang yang memang tidak bisa Anda beli pada bulan-bulan sebelumnya? Atau, apakah uang THR itu sebaiknya full digunakan untuk belanja kebutuhan hari raya saja? Ke pos-pos apa saja sebaiknya THR itu dibelanjakan? Semua jawaban di atas sebetulnya akan sangat bergantung pada situasi dan kondisi Anda masing-masing. Apalagi kondisi di sini misalnya apakah Anda sudah berkeluarga atau belum, ataukah Anda sebagai kepala keluarga yang mempunyai tanggungan finansial bagi saudara lainnya.

Uang THR tidak selalu diasosiasikan dengan kepuasan berbelanja, ada kepentingan moral juga di dalamnya.  

Bagaimana dengan Anda? Untuk pos-pos apa saja THR itu sebaiknya digunakan? Bagaimana prioritas belanja yang baik dalam membelanjakan THR? Strategi berikut ini kira-kira dapat Anda terapkan saat menerima uang THR.

Prioritas Hari Raya

Namanya saja uang Tunjangan Hari Raya, sudah pasti tujuan perusahaan memberikan uang itu kepada Anda adalah agar Anda bisa mencukupi seluruh kebutuhan Hari Raya. Sudah pasti, belanja hari raya harus jadi prioritas pertama dalam membelanjakan THR jika memang pengeluaran ini jadi tanggung jawab Anda. Ini karena Anda harus berbelanja segala hal yang memang diperlukan untuk hari raya. Nah, memang kebutuhan belanja hari raya setiap orang berbeda-beda. Besar kecilnya pengeluaran ini tergantung pada kondisi masing-masing orang. Dan ada satu lagi yang harus diingat, dalam uang THR terdapat bagian untuk kepentingan moral, untuk umat Muslim yang akan merayakan Idul Fitri, maka zakat fitrah wajib hukumnya untuk dikeluarkan.

Kebutuhan Sandang Hari Raya

Setelah menggunakan THR untuk kebutuhan hari raya, prioritas kedua adalah dengan menggunakan THR Anda untuk membeli barang-barang keperluan keluarga yang memang cukup penting tapi tidak terbeli pada bulan-bulan biasa. Ada beberapa keluarga yang menyambut Lebaran dengan melakukan renovasi rumah, mengganti perabot yang sudah usang, dan mempercantik rumah dengan berbagai atribut agar terlihat elegan saat sanak saudara datang bersilaturahmi. Kebutuhan sandang ini pun bermacam-macam, dari mulai kebutuhan bahan makanan untuk sajian Lebaran, biaya renovasi rumah (jika diperlukan), atau mengganti beberapa perabot yang memang sudah tidak layak digunakan. Tapi ingat, penggantian barang-barang itu hanya boleh dilakukan jika memang mendesak. Apabila masih layak, maka sebaiknya Anda menempatkan uang THR pada pos lain yang lebih penting.

Untuk Belanja Pribadi

Setelah barang-barang keperluan keluarga yang kemarin-kemarin tidak terbeli itu telah terpenuhi, barulah gunakan sisa THR Anda untuk membeli barang-barang kebutuhan pribadi Anda yang selama ini belum terbeli tetapi memang sudah jadi kebutuhan. Pakaian? Tas? Sepatu? Alat olahraga? Atau ponsel? Terserah Anda. Yang penting, kebutuhan belanja untuk hari raya dan keperluan keluarga sudah didahulukan. 

Persentase pembagian pos-pos THR ini dapat Anda jabarkan dalam catatan yang jelas sehingga tidak mengalir begitu saja. Sekali lagi, yang terpenting uang THR itu harus tepat sasaran dan tepat guna. Setelah memenuhi kewajiban moral secara agma, seperti membayar zakat dan sedekah, kemudian memenuhi kebutuhan keluarga (apabila Anda memiliki tanggung jawab tersebut), baru kemudian memenuhi kebutuhan pribadi. Ciri-ciri pemakaian THR yang baik adalah Anda mampu menyisakan beberapa nilai walaupun tidak besar untuk masuk kembali dalam tabungan Anda. Bagaimana? Mulai memahami esensi dari Tunjangan Hari Raya itu sendiri? Selamat mencoba!