Merdeka.com --- Polisi China menahan seorang wanita atas komentar dibuatnya di Twitter, kata media pemerintah, di mana tahanan tampaknya seorang mahasiswi yang mengunggah komentar tentang tindakan keras di Lapangan Tiananmen 1989.

Penangkapan tersebut terjadi setelah pihak berwenang meningkatkan sensor dan menahan puluhan orang jelang peringatan 25 tahun tindakan keras di Lapangan Tiananmen, di mana tentara China membunuh ratusan pengunjuk rasa, meski beberapa pihak memperkirakan ada lebih dari seribu pengunjuk rasa, seperti dilansir situs Asia One, Selasa (10/6).

Pihak berwenang di Beijing menangkap seorang bermarga Zhao berumur 22 tahun sebab menggunakan Twitter untuk "menyebarkan informasi cara melanggar hukum", menurut kantor berita China News Service, kemarin.

Rincian yang diberikan dalam laporan itu tampaknya cocok dengan akun Twitter dari Zhao Huaxu, seorang mahasiswa di Beijing, yang telah mengunggah rencana untuk menggunakan stasiun pemancar agar menyiarkan informasi tentang tindakan keras Tiananmen melalui layanan pesan singkat (SMS).

Twitter diblokir di China dengan sistem dijuluki "Tembok Api China", meskipun beberapa pengguna menghindari kontrol untuk menggunakan layanan ini. Penangkapan untuk komentar yang dibuat pada layanan buatan Amerika Serikat jarang terjadi.

Sebuah nomor telepon yang tercantum untuk Zhao tidak dijawab pada hari ini, dan polisi Beijing tidak bersedia untuk berkomentar.

Pihak berwenang meluncurkan kampanye terhadap "desas-desus" di dunia maya disampaikan di situs media sosial dalam negeri tahun lalu di mana ratusan orang, termasuk beberapa kritikus pemerintah terkemuka, telah ditahan.

Secara terpisah, polisi kemarin menolak jaminan terhadap Pu Zhiqiang, seorang pengacara hak asasi ternama ditahan pada Mei lalu sebab menghadiri seminar swasta tentang tindakan keras Lapangan Tiananmen 1989, kata teman-temannya.

Amnesty International mengatakan lebih dari 40 jurnalis, pengacara, akademisi dan pegiat ditahan dalam berbagai bentuk penahanan menjelang peringatan protes Lapangan Tiananmen pada 4 Juni lalu, dalam tindakan keras yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.