SEMANGAT persatuan dan kebersamaan ternyata tidak hanya bisa diwujudkan dalam perjuangan politik. Namun, bisa juga diwujudkan dalam sebuah konser musik. Buktinya, gelaran "Final Regional LA Lights Indiefest 2008" area Bandung mampu menyatukan penggemar musik kota kembang dari berbagai aliran.
Senin (18/8), Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) sudah dipadati massa sejak siang. Menjelang acara dimulai, areal parkir pun hampir tidak mampu lagi menampung puluhan mobil dan ratusan motor yang terus berdatangan. Ribuan remaja dan dewasa, pria ataupun wanita, penggemar pop maupun punk rock, semua bercampur menjadi satu. Mereka melupakan semua perbedaan dengan satu tujuan yang sama, menikmati sajian beragam warna musik yang disuguhkan.
Empat dara yang tergabung dalam Minerva String Kuartet sukses membuka acara malam itu dengan sebuah lagu instrumental dipadu dua violin dan dua viola. Setelah itu, 24 Hours Service berkesempatan tampil sebagai peserta pertama dalam final malam itu. Genre garage rock yang diusung band beranggotakan Ilham (vokal dan gitar), Yudha (gitar), Harry (bas), dan Hasan (drum) ini cukup membakar adrenalin penonton. Band yang manggung di berbagai acara ini sukses membawakan dua lagu baru berjudul "Scoofer" dan "Stereotype".
Sementara itu finalis kedua, Tigapagi, juga tidak kalah seru. Genre experimental folk acoustic pop yang diusung Sigit (vokal, gitar, dan suling), Eko (gitar), Alfa (piano), Indra (keyboard), dan Prima (gitar, bas, dan perkusi) ternyata juga tidak menyurutkan animo penonton. Meski sedikit slow, penonton tetap larut menikmati suguhan lagu "Menari" dan "Tangan Hampa Kaki Telanjang".
Suasana kembali memanas tatkala nuansa indie rock eksperimental disajikan apik oleh band asal SMUN 8 Bandung, Vicky Vette. Prajadhita (gitar), Rahyan (vokal), Ferdi (bas), dan Shadian (drum) membawa penonton kembali bersemangat. Seperti halnya 24 Hours Service, Vicky Vette juga membawakan dua lagu baru berjudul "Unlimited Loyalty" dan "Fluxing Dream".
Penampilan ekspresif dari Goodbye Lenin boleh dikatakan mendapat sambutan paling meriah dari penonton malam itu. Betapa tidak, aksi panggung Taufik (vokal dan gitar) sempat menyedot perhatian seisi gedung Sabuga, baik yang berdiri di depan panggung maupun yang duduk di tribun festival. Di pengujung lagu "Ruang Plastik", Taufik menutupi wajahnya dengan sebuah plastik transparan. Ia bertingkah layaknya orang yang terjerat, sesuai dengan salah satu bait lagunya "kita terjebak dalam ruang plastik".
Aksi gila juga dilakukan Taufik saat membawakan lagu "Bisa". Dia membuka kaus dan menutupi mulutnya dengan plester. Untuk menambah seru suasana, ia pun melumuri tubuhnya dengan cairan merah yang mengibaratkan darah. Kali ini aksi Taufik didukung oleh sang gitaris Verry yang memainkan gitar dengan cara unik. Verry menggesek gitarnya bagaikan sedang memainkan sebuah biola.
Sementara itu, band Cuts yang menjadi bintang pada babak sebelumnya, tampil kurang impresif. Ita (vokal 1) terkesan tidak mampu mengimbangi kelincahan Yfana (vokal 2) malam itu. Meski demikian, penampilan Cuts secara keseluruhan terbilang cukup menghibur. Selain membawakan lagu andalan mereka "Feuxjealousyfeux", Yfana dan Ita yang diiringi oleh Dida (drum) dan Dannie (gitar, programmer), juga membawakan lagu baru berjudul "Beringas".
Meski tampil sebagai finalis terakhir, Nemesis tak mau kalah dengan peserta lain. Band beraliran metal yang terdiri atas Airlangga (vokal), Ridwan (drum), Yodi (gitar), Regha (bas), dan Sendy (gitar) ini, mampu membawa penonton ikut ber-headbang bersama.
Giliran bintang tamu
Seusai penampilan seluruh peserta, giliran bintang tamu untuk menghibur penonton. Dua finalis LA Lights Indiefest 2007, Cascade dan Wind Cries Mary mendapat kesempatan pertama. Masing-masing membawakan tiga lagu dari minialbum mereka yang akan segera dirilis. Setelah itu, giliran Efek Rumah Kaca untuk menghibur penonton. Band asal Jakarta itu sukses membawakan lima lagu.
Tibalah kemudian giliran bintang tamu yang paling ditunggu penonton, Burger Kill (BK) dan Seringai. Bagi BK, ini merupakan kali pertama mereka kembali tampil di kota kelahirannya, Bandung, sejak melakukan serangkaian tur di kota-kota besar Jawa dan Bali.
Bagaikan menyambut Persib yang menang dalam pertandingan tandang, pemuda pemudi kota kembang menyambut antusias penampilan BK malam itu. Distorsi kental dari gitar Eben dan Agung dipadu entakan drum Andris dan besutan bas Ramdan, sontak membuat penonton langsung berjingkrak. Teriakan sang vokalis, Vicki yang sangat hardcore hampir membuat penonton lepas kendali. Aksi headbang dan moshing pun sempat berubah menjadi saling dorong. Namun, berkat kesigapan aparat keamanan dan instruksi Vicki dari panggung, keadaan tetap aman dan terkendali.
Setelah tiga lagu disuguhkan BK, kini giliran Seringai untuk tampil maksimal. Sang vokalis yang juga salah seorang juri "LA Lights Indiefest 2008", Arian 13 juga tampil cukup garang malam itu. Mantan vokalis Puppen itu, mendapat sambutan meriah dari para penonton wanita saat membawakan lagu "Citra Natural" dari album "Serigala Militia".
Rangkaian acara malam itu kemudian ditutup dengan kolaborasi apik antara Minerva, BK, dan Seringai. Perpaduan musik gesekan biola klasik dan distorsi gitar hardcore yang disuguhkan ternyata menjadi sebuah warna baru yang sangat menarik. Bersama BK, Minerva membawakan lagu "Tinggal Denting Gitar" dan "Angkuh". Sementara itu bersama Seringai mereka menyuguhkan "Membakar Jakarta" dan "Jangan Berhenti". (Handri Handriansyah)***
Disadur dari: www.pikiran-rakyat.co.id
