Kalau dilihat-lihat, karya-karya graffiti memang penuh nilai seni. Tapi karya-karya indah itu bukan untuk diperjual belikan. Banyak artist graffiti yang tidak mau menjual karya mereka. Mereka tidak membuat graffiti demi uang. Namun begitu tetap ada yang berkompromi dengan menjual karyanya. Hal itu tidak dapat dipersalahkan juga karena seperti kita tahu, berkarya di bidang apapun, dan tak terkecuali graffiti tuh butuh modal. Cat, dan alat-alat lainnya bukan barang murah.   Namun menurut Kairos, salah satu bomber di NYC, banyak karya yang dikomersilkan ternyata bukan karya yang bagus. Akan sangat berbeda antara artis yang yang membuat karyanya dengan penuh integritas, dengan artis yang berkarya demi keuntungan.   Beberapa tahun belakangan ini, memang media telah membuat budaya graffiti menjadi sebuah hal yang bergengsi. Karena derajat yang sudah ditinggikan itu, para graffiti artist wannabe pun bermunculan. Namun menurut Kairos, semua orang bisa menjadi ilustrator komik, namun tidak semuanya bisa menjadi graffiti artist. Graffiti adalah sesuatu yang sangat individualistic. Artis graffiti biasanya berkarya untuk diri sendiri. Orang lain yang membeli karyanya mungkin tidak akan sepenuhnya paham arti dan citarasa dari graffiti itu.   Berbeda 180 derajat dari Kairos, Susan, yang juga bomber di NYC, berpendapat kalau masih banyak artis yang tetap mengedepankan integritas dalam berkarya. Namun mereka juga sekaligus menumpahkan keahliannya itu untuk menyambung hidup dalam bentuk karya yang lain. Misalnya seorang graffiti artis yang juga menjadi kartunis, atau tattoo artist. Jadi tidak ada salahnya juga menggunakan keahlian dan feel untuk hal kegiatan berkesenian lain. [rad]   Sumber foto: duncancumming.combanner-ads