Merdeka.com --- Mulai tahun depan, perusahaan-perusahaan di Indonesia akan berpotensi dibanjiri para pekerja dari negara-negara lain. Pelaksanaan ASEAN Economic Community (AEC) juga memungkinkan para professional asal Indonesia menduduki banyak posisi dalam berbagai perusahaan di luar negeri.

Menurut survey Jobstreet.com yang melibatkan 2.006 responden dari berbagai posisi dan industri pada akhir tahun lalu, 47% responden merasa khawatir terhadap AEC yang akan membuat mereka kehilangan pekerjaan karena serbuan tenaga kerja asing. Para pekerja dari negara lain dengan kemampuan bahasa Inggris, pengalaman, keterampilan dan jaringan global yang lebih baik dapat menjadi ancaman serius bagi pekerja lokal.

Meski demikian, AEC juga mendorong 67% responden untuk memiliki keinginan berkarier di luar negeri. Bahkan 80% responden menyatakan minatnya untuk bekerja di Singapura yang memiliki berbagai fasilitas dan infrastruktur lebih baik dari negara ASEAN lainnya.

Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam termasuk Indonesia memang diperkirakan akan mengalami kekurangan tenaga kerja terdidik dan terlatih setelah 2015. Hal ini disebabkan ekonomi mereka yang tumbuh lebih cepat dibanding penambahan jumlah penduduknya. Peluang ini harus dapat dimanfaatkan oleh para pekerja Indonesia yang ingin berkarier di luar negeri maupun mereka yang memilih bekerja di Indonesia, perlu meningkatkan kualifikasi internasionalnya agar dapat terus berkompetisi dengan baik.

Menurut Handi Kurniawan, pakar Sumber Daya Manusia sekaligus penulis buku Go Global: Guide to a Successful International Career, para pekerja Indonesia harus dapat meningkatkan kualifikasi internasional secara signifikan di bidangnya masing-masing dan mengatasi tantangan yang menghambat mereka mencetak sukses di karier global.

Handi Kurniawan mendefinisikan karier global tidak hanya berarti seseorang harus pindah, tinggal, atau bekerja di luar negeri. Membina karier internasional pun dapat di lakukan di dalam negeri seiring potensi dan reputasi Indonesia yang semakin meningkat di dunia internasional dan juga berbagai peluang yang ada. Meski demikian, Handi menganalisis empat tantangan yang berpotensi menghambat para pekerja Indonesia dalam membangun world-class standard di dalam negeri maupun menembus karier di luar negeri:

1. Kurangnya kepercayaan diri dalam jejaring global. Ini bukan hanya masalah kepercayaan membawa diri, namun juga kepercayaan menunjukkan diri. Orang Indonesia kadang mendiamkan banyak pertanyaan berkecamuk di kepala, dan enggan bertanya saat diberi kesempatan dalam rapat atau seminar. Padahal momen tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan eksistensi, kemampuan menganalisis masalah serta melatih keberanian berbicara di depan rekan atau mitra kerja. Sifat rendah hati yang juga merupakan kekuatan apabila tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi rendah diri.

2. Memegang prinsip 'it's important to be right'. Orang Asia, terutama Indonesia, sering sekali takut salah dan malu bisa salah. Ini yang membuat para profesional asal Indonesia tertinggal dengan mereka yang terbiasa dengan didikan pola Barat yang cenderung menunjukkan pola berpikir kritis, kreatif dan independen.

3. Kurang mengenali mimpi terbesar. Orang Indonesia cenderung tidak memenuhi janji untuk diri mereka sendiri. Hal ini menyebabkan mereka jadi tidak berani bermimpi besar untuk diri sendiri. Alasannya bisa karena takut dicemooh karena dianggap bermimpi terlalu muluk atau merasa tidak mampu mewujudkannya.

4. Tidak membuat rencana untuk mewujudkan impian. Seringkali sesuatu di lakukan secara spontan, tanpa perencanaan atau hanya memikirkan jangka pendek. Sebagian dari mereka yang berani bermimpi, tidak melakukan perencanaan untuk mewujudkannya.

Dalam buku Go Global: Guide to a Successful International Career (bahasa Indonesia) yang diluncurkan pada 19 Juni 2014, Handi Kurniawan juga memaparkan aspek-aspek yang perlu disiapkan untuk membangun kualifikasi internasional, berkarier global, jurus menguasai dinamika pergaulan global serta rahasia mewujudkan impian meraih sukses berkarier tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi ciri khas kita.