Sebagai supir Go-Jek, Dewi tak pernah takut kulitnya menghitam karena sengatan matahari. Perempuan berusia 32 tahun itu juga sudah terbiasa menghadapi kemacetan Jakarta yang semakin menggila.

Sudah dua bulan ini, Dewi bergabung dengan penyedia jasa layanan ojek online yang tengah naik daun itu. Sebelumnya ia telah kerja bertahun-tahun di perusahaan asuransi.

Pertanyaan pertama yang pasti muncul di benak kita semua, kenapa Dewi mau kerja di jalanan sebagai supir Go-Jek?

Dewi tidak menampik tergiur dengan penghasilannya, tapi ada alasan lain yang lebih penting, yaitu soal waktu bekerja yang lebih fleksibel. Sebagai single parent, Dewi harus mengurus dua anak laki-lakinya sekaligus mencari nafkah untuk mereka. Anaknya yang pertama berusia 8 tahun, dan yang kedua masih berusia tiga tahun.

"Jam 7 abis beres ngurus anak-anak, aku udah tuh mulai nge-beat (istilah supir Go-Jek untuk mengambil penumpang). Nanti balik ke rumah jam 12, istirahat, ngurus anak-anak lagi. Jam 3 mulai nge-beat lagi sampe jam 10 malem. Kalau siang sampe malem, anak-anak sama tantenya," ujar Dewi.

Awalnya, Dewi sempat malu kerja jadi tukang ojek. Setiap pagi, ia berangkat dengan mengenakan pakaian ala pegawai kantoran. Setelah agak jauh dari rumahnya baru ia mengenakan atribut Go-Jek.

Tapi, lama kelamaan ia sudah mulai cuek. Apalagi, si anak pertama sangat mendukungnya.

"Dia seneng sekarang ibunya jadi Go-Jek. Tiap hari dikasih uang jajan. Dulu boro-boro, dia minta martabak aja nunggu tanggal 25 dulu. Lagian ini kerjaan halal ngapain malu," ucap perempuan berkacamata itu.

Penghasilan Dewi sebagai Go-Jek bisa dibilang mencukupi kebutuhan keluarganya. Sehari ia bisa mengantongi sekitar 200 ribu rupiah sampai 400 ribu rupiah.

"Ya kalau rezeki sih sudah ada yang ngatur yah, kalau lagi gede ya gede kalau lagi dikit ya dikit," ujar Dewi.

Sama seperti supir Go-Jek lainnya, Dewi juga menemui banyak hambatan di jalanan. Beberapa kali ia harus berurusan dengan pengojek tradisional yang emosi.

"Aku pernah sih ngalamin beberapa kejadian, tapi alhamdullilah nggak sampe pemukulan. Mungkin karena aku cewek ya, jadi mereka segan. Tapi kalau dimarahin, dikatain, mau ditimpuk itu pernah," jelasnya.

Namun, Dewi sadar betul itu semua sudah resikonya bekerja di jalanan. Ia memilih menghadapi semua hambatannya dengan senyuman dan tanpa keluhan.

"Yah kalo kerja di jalanan sih, istilahnya, kalo nabrak kalau nggak ya ditabrak. Yah, kalau ngehadapin masalah pakai emosi ya nggak bakal selesai-selesai," tutupnya.

So, banyak banget pelajaran yang bisa kita ambil kisah Dewi ini. Oleh karena itu, kita nggak boleh lagi tuh males-malesan dan harus tetap bersemangat kerja!