Mendapatkan venue yang layak untuk sebuah pertunjukan kini sudah menjadi sesuatu yang mahal bagi band-band yang berdomisili di kota Bandung. Hal tersebut yang kini dirasakan oleh Mortified, finalis LA Lights Indiefest regional Bandung yang mengusung musik death metal. Kini Wilman, Fandy, Wyan Luthfi, T.B Iqbal dan Maiqal Bagya harus merasakan minimnya gigs-gigs lokal yang menjadi lahan "penghidupan" mereka. Selain harga sewa venue yang tidak terjangkau untuk mengadakan sebuah show, sulitnya perizinan seperti menjadi mimpi buruk yang entah kapan berakhir. Jika merunut kebelakang, sulitnya mendapatkan perizinan di kota Bandung merupakan imbas dari kejadian kelam yang menewaskan 11 orang di acara launching album Beside pada 9 Februari 2009 lalu. Semenjak kejadian itu, pihak keamanan kota Bandung agak ketat memberikan perizinan untuk gigs lokal apalagi untuk musik metal. Banyak efek domino yang ditimbulkan dari kejadian ini, salah satunya banyak band yang merasa kalau perkembangan band berhenti. Tak mau terus larut dalam "kepedihan", Mortified menyiasatinya dengan cara menjalani gigs-gigs di luar kota Bandung, seperti Jakarta, Bogor, atau kota-kota seputaran Jawa Barat. Dan ternyata cara ini berhasil meningkatkan awareness orang terhadap kehadiran Mortified selain mendapatkan penggemar baru tentunya. Sulitnya mendapatkan venue yang terjangkau serta perizinan dari pihak keamanan menjadikan berkah sendiri bagi band asal kota kembang tersebut. Sebagai contoh, patungan adalah solusi yang dipilih jika sebauah band mau membuat show. Hal tersebut makin mempererat hubungan di antara band yang merasa perjuangan mereka sejalan. Kini Mortified hanya berharap situasi Bandung bisa kembali seperti dulu, ketika banyak gigs rutin yang diadakan hampir tiap minggu, dengan harga sewa venue yang murah, perizinan yang mudah dan jatah waktu yang tidak terbatas.banner-ads