Nilai tukar dollar AS mencapai Rp 14.000. Bill Gates pun kena imbasnya. Ratusan miliarder dibikin pening karena hartanya menyusut sampai miliaran dollar AS.

Hari ini pelaku bisnis Indonesia, mendapat berita yang cukup bikin pening. Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS akhirnya menyentuh angka Rp 14.000. Dollar AS memang terus menguat terhadap rupiah sejak 4 Agustus lalu. Dimulai dengan Rp 13.495 dan terus merangkak naik hingga dari data situs Bank Indonesia hari ini menunjukkan, Rp 13.998.

Tapi dampak gejolak pasar ini tak hanya menghantam negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia. Ratusan miliarder pun dibikin sakit kepala karena harta mereka pun ikutan bergolak dan tergerus. Menurut data Bloomberg, selama seminggu ini 400 miliarder mengalami kehilangan harta hingga 182 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.548 triliun (kurs Rp 14.000 per dollar AS).

Penyebabnya, devaluasi yuan, anjloknya harga minyak mentah hingga di bawah 40 dollar AS per barrel dan memburuknya data manufaktur Amerika Serikat. Investor kondang seperti Warren Buffet aja, seminggu kemarin kehilangan 3,6 miliar dollar AS gara-gara sahamnya anjlok lebih dari 5 persen. Orang terkaya di dunia, Bill Gates pun tak luput dari kerugian. Ia kehilangan 4,9 persen asetnya atau 4,2 miliar dollar AS.

Di Cina apalagi, hingga hari ini pasar terus menurun dan terjadi aksi panik jual di bursa mereka. Benchmark index China, Shanghai Composite, sampai hari ini jatuh lagi hingga 8,4 persen. Makin jatuh setelah meunurun sebesar 30 persen sejak pertengahan Juni lalu. Indeks saham Hang Seng Hongkong pun sama saja, menurun 4 persenn.

Akibatnya, harta 26 miliarder terkaya di Cina menyusut hingga 18,8 miliar dollar AS. Kerugian terbesar dialami Wang Jianlin. Pendiri Dalian Wanda Commercial Properties ini kehilangan 3,5 miliar dollar AS.

Di bursa Nikkei Jepang, perdagangan mereka turun 2,8 persen, titik terendah sejak 5 bulan terakhir. Sementara Australia, mengalami penurunan 2.9 persen. Korea Selatan, indeks Kospi-nya menunjukkan penurunan 1,4 persen lebih rendah. Timur Tengah pun tak luput, mengalami penurunan pasar yang cukup tajam hingga Senin ini.