Pemanfaatan berlebihan terhadap alam udah tentu mempunyai dampak yang besar, termasuk dengan apa yang terjadi dengan Laut Aral. Siapa yang nyangka jika laut terbesar ke-4 di dunia tersebut kini hanya tinggal beberapa persen aja airnya. Sisanya kering nggak bersisa.

Nasa menerbitkan beberapa gambar perubahan Laut Aral mulai dari tahun 2000. Terlihat, perubahan yang sangat mengejutkan. Dalam kurun waktu 14 tahun aja, salah satu laut terbesar di dunia tersebut jauh berkurang volume airnya.

Laut Aral emang diapit oleh beberapa gurun pasir tandus. Hal tersebut emang sangat memudahkan airnya untuk menguap. Namun aliran air dari sungai-sungai gletser di sekitar pegunungan Aral, membuat laut tersebut masih tetap dipenuhi air. Jadi, penyebab keringnya air laut karena lokasi sepertinya nggak mungkin.

Namun setelah diteliti lebih jauh, perubahan Laut Aral awalnya disebabkan oleh proyek pengalihan air oleh Uni Soviet pada tahun 1960. Proyek tersebut mengalirkan sungai-sungai yang menjadi sumber Laut Aral untuk kemudian mengaliri kawasan gurun agar mampu untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Proyek ini emang berhasil, namun menjadi awal petaka untuk Laut Aral.

Pada tahun 2009, diketahui jika volume air Laut Aral tinggal setengahnya aja. Pada tahun 2014, Laut Aral yang terbagi menjadi dua bagian utara dan selatan, benar-benar harus kehilangan bagian selatan yang notabene jauh lebih luas dari bagian utara. Beberapa tahun ke depan, bukan nggak mungkin Laut Aral akhirnya benar-benar kering seluruhnya.