Kalau mau menghindari kemacetan, naik TransJakarta bisa jadi alternatif. Walaupun ojek online mungkin lebih nyaman tapi kalau kondisi cuaca yang nggak bagus, abang-abangnya juga nggak mau narik. So let's talk about TransJakarta.

Sudah bertahun-tahun busway jadi pilihan transportasi para pegawai di Jakarta. Semakin ke sini pelayanan, trayek dan armadanya pun makin baik. Sampai tengah malam masih ada bus buat yang suka lembur. Walaupun, yah, busnya nggak akan sama dengan yang jalan pagi dan siang.

Naik TransJakarta kadang bisa enak, kadang juga nggak enak. Dan loe yang sudah sering naik pasti pernah ngerasain beberapa hal di bawah ini. Dan yang belum pernah, jangan parno ya bro. 

1. Desek-desekan? Wajar. Kalau desek-desekan sama yang bau ketek? Sial!



Di jam-jam sibuk seperti berangkat dan pulang kerja, TransJakarta pasti penuh. Kalau jam berangka kerja biasanya penuhnya menuju ke pusat kota Jakarta seperti Kuningan, Thamrin, Sudirman. Kalau jam pulang kerja ya sebaliknya.

Desek-desekan di dalam bus sudah pasti. Pagi-pagi masih okelah semua orang pada wangi. Tapi kalau pulang tengah malam (dan ya itupun masih desak-desakan dengan semua orang dari halte Harmoni) biasanya yang desek-desekan pasti aja bau keringat. Sama halnya kalau naik TransJakarta di hari Sabtu/Minggu sekitar jam 3 sampai 6 sore dari arah Ragunan. Sabar aja pokoknya.

2. Orang-orang malas gerak.



Dalam kondisi bus yang penuh sering banget orang-orang di dalam malas gerak. Kebanyakan pengen numpuk di depan pintu. Entah supaya cepet keluar atau emang dasar mager aja.

Padahal di dalam masih kosong dan bisa lebih geser untuk memadatkan badan bus. Jadi orang-orang yang pengen naik karena buru-buru juga kebagian tempat. Yang kayak gini nih pasti bikin loe kesel setiap pagi.

3. Pura-pura tidur.



Tempat duduk adalah hal yang langka di TransJakarta pada jam sibuk. Kalau sudah duduk, pasti nggak mau berdiri buat ngasi duduk ke orang lain yang lebih membutuhkan. 

Loe pasti akan sering liat beberapa orang (biasanya sih cowok) yang pura-pura tidur sambil pakai headset. Jadi supaya nggak harus bangun dan ngasih tempat duduknya ke orang lain.

4. Jadwal yang nggak pasti.



Di setiap shelter TransJakarta ada layar yang menampilkan posisi bus dan jam kedatangan. Tapi mengingat kondisi traffic di Jakarta yang nggak bisa ditebak, jadwal inipun jadi nggak pasti. Bus yang awalnya dijadwalkan datang 20:05 misalnya, bisa mendadak berubah jadi 20:08, 20:10, dan seterusnya. Jadi semacem di PHP-in sama TransJakarta.

5. Bus kecil selalu lebih padat tapi bergerak lebih cepat.



TransJakarta punya tiga tipe bus: gandeng, standar, dan kecil. Sesuai ukurannya, bus kecil nggak bisa muat banyak dan akan selalu padat di jam sibuk. Tapi ada untungnya loh naik yang kecil! Karena bergeraknya lebih cepat. Kadang-kadang sopir bus TransJakarta yang kecil bisa superngebut dan bikin loe menghemat waktu 10 - 15 menit setiap perjalanan. Tapi siap-siap juga di dalam loe harus pegangan yang kuat supaya nggak terombang-ambing.