Talkmen.com --- Hanya sekedar penasaran atau masih terobsesi sama mantan?

Facebook, Twitter, Path, Pinterest, Foursquare, Linkedin atau jejaring media sosial lainnya tentunya memudahkan kita untuk berhubungan kembali dengan sahabat lama, teman se-alma mater, former room mate, dan tentunya... mantan.

Seperti yang sering kita lihat di jejaring sosial manapun, 'People You May Know' memberikan probabilitas besar akan kesempatan untuk "bertemu" lagi dengan mantan pacar, mantan "teman", mantan fiance, bahkan 'the one that got away'.

Pertanyaannya menjadi: 'Add Friend' atau 'Ignore' ? Tentunya belum ada jejaring sosial manapun yang cukup pintar dalam mengerti prinsip tingkat relasi dari tiap individu manusia. Saya bertanya kepada beberapa teman, apa yang mereka lakukan jika menemui mantan mereka dalam jejaring sosial dan jawaban mereka sangat variatif.

"Gue add aja. So what? Why can't we be friends?"

"Let bygones be bygones. Ngapain juga di add?"

Jelas, we can't be friends dan it’s not as simple as letting bygones be bygones. Sebagian orang pernah menemukan situasi yang sangat awkward berteman kembali dengan mantan. The pain, the bitterness, the what ifs”, yang biasanya berakhir dengan "see you in another life when we both are cats". Cukup dalam bukan? Dan perasaan yang menggantung karena dia pernah menjadi bagian dari diri saya inilah yang membuatlet by gones be by gones juga mustahil untuk dilakukan.

Maka yang beberapa orang lakukan adalah menyimpan nama-nama tersebut di dalam sebuah pojok di dalam benak saya yang terdalam dan mulai melakukan lurking kepada nama-nama tersebut. Memang terdengar benar ketika kita mengatakan I don't have feelings for them anymore. Life goes on, right? Namun, ketika saya melihat senyum, tawa, beserta ekpresi lainnya, bohong jika saya mengatakan I don't remember all those things.

Setelah dipikir kembali, yes it's totally OK to lurk on your ex(s)Lurking pun dapat menjadi aktifitas online yang sehat jika kita dapat menjadi dewasa dalam menjaga sikap. Beberapa poin menarik yang saya dapatkan dari aktifitas lurking on ex(s) ini antara lain adalah kolega saya di kantor mengatakan: "Adam, you're a psycho!"

Well, if I were a psycho, I’d stalk instead of lurk.

Closure

Semua cerita pasti ada akhiran. Di dalam hubungan percintaan, kata akhir itu tidak selalu berakhir baik. Bertolak dari pengalaman pribadi, hampir semuanya berakhir dengan I hope you die in a car crash! atau Have a nice life!(Namanya juga puppy love, memang harus berakhir dengan dramatis)

Lurking mantan dengan melihat kisah hidupnya melalui timeline atau photo albums di jejaring sosial media dapat menjadi pelipur lara, bahkan menutup sebuah bab dalam kisah percintaan lalu anda. Lebih dari itu, saya menemukan sedikit kedewasaan diri dengan let all the feelings go and move on.

 

Self Reflection

Break up, separation, divorce, memang sulit dilalui, namun ketika seorang laki-laki dapat melewatinya, maka ia menjadi seorang true gentleman atau definisi kami sebagai seorang real man. Disinilah saatnya kita melewati 'what-does-it-all-mean stages'. Bagi kalian yang masih ada perasaan 'menggantung' ketika melewati tahapan tersebut, lurking adalah solusi yang sehat” (selama tidak mencoba mengkontak melalui private message!)

Motivational Benchmark

Every cloud has a silver lining. Bermabuk dengan masa yang sudah lewat memang menyakitkan atau bahkan menjadi penyakit ketika hobi lurking tersebut menimbulkan gejala obsessive compulsive psychotic disorders. Saya percaya lurking, meskipun tidak secara langsung, dapat mengangkat ke permukaan sisi baik dari setiap laki-laki. Bagaimana tidak? Pada dasarnya, we’re such competitive animals, tentunya menginginkan yang lebih baik dari apa yang dimiliki orang lain, in a non-aggressive way.

Dengan constant lurk, kita dapat membandingkan hidup yang ia jalankan dengan diri sendiri secara paralel. Seakan ia hidup di sebuah paralel universe yang berhubungan. Jadikan status updates-nya seakan-akanmilestone yang harus kita perhatikan baik-baik. Misalkan, mantan pacar menjabat sebagai wakil atase pendidikan di Switzerland, akan lebih baik jika kita sudah berada di jenjang karier yang sama.

Closure, self-reflection, and motivational benchmark. Nothing more, nothing less. Inilah yang membedaka nlurking dan stalking. Karena disaat kita lurking album-album foto para ex(s), hampir 100% mereka juga lurking back at your profile for sure. Namun wanita dan pria diciptakan berbeda. Disaat kita bertanya What does it all mean?” saat lurking, sang ex mungkin berfikir:

What did I see in him? What the hell was I on? He’s so ugly, but then I remember his personality, and I guess... OK maybe that was it.