Merdeka.com --- Masih maraknya sentimen positif diprediksi membuat laju pasar obligasi bergerak naik. Mayoritas tenor obligasi mengalami kenaikan meski di pekan sebelumnya terkoreksi akibat imbas dari pelemahan laju nilai tukar Rupiah usai respon negatif dari pertemuan The Fed yang mengindikasikan mulai adanya percepatan pengurangan stimulus dan rencana kenaikan suku bunga.

Analis Trust Securities Reza Priyambada memaparkan, laju Rupiah mampu kembali mengalami kenaikan pasca dirilisnya penurunan indeks manufaktur China karena memanfaatkan terapresiasinya Yuan setelah salah satu pejabat memberikan komentarnya terkait kemungkinan pelonggaran moneter untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi China.

Di sisi lain, sentimen positif juga datang dari respon terhadap kesiapan pemerintah dan BI dalam menghadapi kebijakan moneter The Fed. Menguatnya beberapa mata uang emerging market, imbas dari terapresiasinya Yuan, meski ekonomi China dinilai masih dalam perlambatan, memberikan sentimen positif bagi penguatan lanjutan Rupiah. Padahal Yuan sempat melemah karena sentimen tersebut, namun, dapat terangkat meski tipis setelah PboC menaikkan reference rate Yuan.

"Terapresiasinya Rupiah juga didukung kenaikan Rupee seiring harapan positif pemilu dan kenaikan Poundsterling setelah BoE memberi sinyal potensi kenakan suku bunga," kata Reza, Selasa (1/4).

Pada pekan kemarin, pemerintah telah melaksanakan lelang pembelian kembali SUN dengan cara penukaran (debt switch) senilai Rp 3,42 triliun. Padahal, nilai surat utang negara yang ditawarkan peserta lelang mencapai Rp 4,89 triliun.

Lelang kali ini mengalami oversubscribe sekaligus menggambarkan animo pelaku pasar yang sedang berada dalam kondisi positif serta cukup nyaman dengan kondisi pasar dan makro ekonomi Indonesia saat ini yang dinilai stabil meski sempat diterpa aksi jual pasca rilis pertemuan The Fed.

Beberapa obligasi obligasi yang dipertukarkan karena akan mendekati jatuh tempo maupun dalam beberapa tahun lagi akan jatuh tempo antara lain FR0026 yang akan jatuh tempo Oktober 2014 ditukar dengan FR0068 dan FR0070 yang masing-masing jatuh tempo 2034 dan 2024.

Lalu FR0028 yang masih jatuh tempo Juli 2017 ditukarkan dengan FR0068, FR0069, FR0070, dan FR0071 yang berjatuh tempo 2034, 2019, 2024, dan 2029. Dengan respon positif pelaku pasar maka yield yang diminta pun masih lebih rendah dari lelang sebelumnya.

Untuk pekan ini, dengan ekspektasi masih akan membaiknya sentimen dari dalam negeri diharapkan dapat memberikan imbas positif bagi pasar obligasi sehingga dapat melanjutkan penguatannya. Terutama jika rilis inflasi dan neraca perdagangan dapat sesuai dengan estimasi pelaku pasar atau bahkan dapat melampauinya.

"Harapan akan masih menguatnya nilai tukar Rupiah masih diharapkan dapat mengimbangi rilis data-data ekonomi dari luar Indonesia yang belum sepenuhnya pulih," jelas Reza.

Pelaku pasar kemungkinan akan sedikit menahan diri jelang rilis data-data ekonomi Indonesia di awal pekan depan yang sekaligus merupakan awal bulan. Masih adanya potensi penurunan pada yield obligasi jangka panjang dapat membuat laju pasar obligasi berpotensi melanjutkan kenaikannya. Tetapi, tetap mewaspadai jika rilis data-data tersebut tidak sesuai dengan perkiraan atau bahkan di bawah estimasi.

Perhatikan untuk lelang depan dengan seri SPN03140703, SPN12150403, FR0069, FR0070,dan FR0068 dengan jumlah indikatif Rp 8 triliun.