
World Wild Foundation atau WWF melansir, dalam 20 tahun terakhir populasi orangutan kian mengkhawatirkan. Dalam catatan WWF, orangutan Sumatera masuk dalam kategori sangat terancam kepunahannya karena populasinya tinggal 7.500 individu di alam. Sementara orangutan Kalimantan masuk dalam kategori terancam punah dan tersisa 57.000 individu.
Beberapa penyebab berkurangnya populasi orangutan diantaranya adalah praktik perburuan dan pembalakan liar, beralihnya fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, perubahan iklim, serta kebakaran hutan.
LSM peduli Orangutan, Centre For Orangutan (COP) mengatakan bahwa pembalakan hutan untuk pembukaan lahan perkebunan sawit adalah ancaman besar bagi orangutan.
"Setelah ramai kemarin ada orangutan dibakar, dibantai, sekarang perusahaan dan masyarakat diam-diam membunuh orangutan untuk menghindari masalah dan penjara." Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro
Jika perusahaan atau warga desa berhasil menangkap orangutan, mereka sepakat untuk tutup mulut dan lantas membunuh orangutan tersebut. Pembunuhan orangutan pun akhirnya menjadi kejahatan bersama. Mereka melakukannya dengan rapi dan tidak mau memancing reaksi keras dari publik, khususnya dunia internasional.
Usman Hamid, aktivis perubahan dari Change.org menambahkan, tidak ada baiknya perkebunan sawit untuk kelangsungan hidup orangutan.
"Dari banyak pengalaman sebelumnya, perkebunan sawit diekspansi besar-besaran sehingga memberikan pengaruh negatif terhadap lingkungan. Misalnya kasus PT. Kalista di Rawa Tripa, Aceh. Demi ekspansi lahan, mereka membuka lahan dengan membakar hutan dan berakibat kerusakan hutan itu sendiri dan menciderai orangutan," jelas Usman.
Perkebunan sawit jelas mengancam keberadaan orangutan. Data dari Orangutan Foundation International (OFI) mencatat, 750 ekor orangutan harus meregang nyawa akibat munculnya perkebunan sawit di wilayah Kalimantan. Nasib serupa juga terjadi di Tripa, Aceh, Sumatra. Populasi orangutan hanya tinggal 200 dari 1000 ekor. Menurut ahli konservasi, hutan dan orangutan Tripa Aceh bisa punah dalam waktu 3-4 tahun.
APE Crusader 2
LSM Peduli Orangutan, COP meluncurkan mobil APE Crussader 2, yang menggantikan APE Crussader yang sudah pensiun setelah empat tahun menyusuri hutan Kalimantan untuk menyelamatkan orangutan sejak 2008.
APE Crusader merupakan salah satu tim cepat tanggap yang dioperasikan COP selain APE Warrior dan APE Defender. Mereka bekerja di garis depan untuk menempuh resiko apapun guna menghentikan kejahatan dan kekejaman terhadap orangutan.
Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro mengatakan, ada empat unit mobil dan 12 relawan yang akan berkeliling Kalimantan untuk menyelamatkan orangutan.
Umumnya orangutan ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Mereka kelaparan, dipelihara secara ilegal oleh warga, atau dikurung oleh perusahaan sawit. Tim akan mengambil orangutan tersebut dan direhabilitasi.
Tegakkan Hukum
Pembunuhan orangutan terus akan terjadi jika hukum tidak ditegakkan.
Pemerintah maupun aparat penegak hukum harus berkomitmen untuk menindak tegas kejahatan ini. Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro mengatakan, dalam undang undang sudah jelas disebutkan bahwa orangutan termasuk satwa yang dilindungi. Segala jenis eksploitasi dan kejahatan yang dilakukan padanya akan dihukum. "Yang pasti kuncinya ada di penegakan hukum di Indonesia. Tidak ada masalah dengan orangutan. Di atas kertas sudah ada aturan, polisi hutan juga ada di mana mana. Kalau aturan tidak ditegakkan ya seperti ini keadannya," tandas Hardi.
Usman Hamid, aktivis Change.org memandang tirani ini harus dilawan.
Kesewenang-wenangan perusahaan sawit dilindungi oleh aparat maupun pemerintah. Dia mencontohkan kasus perusahan sawit PT. Kallista di Rawa Tripa Aceh. Pengadilan Tata Usaha Negara di Sumatera Utara memenangkan gugatan WALHI untuk mencabut ijin 1605 hektar di Rawa Tripa, Aceh untuk pembukaan lahan sawit. Secara perdata, perusahaan kalah dan kini WALHI tengah menjajaki peluang untuk menuntut merek secara pidana. "Kedepan kita ada rencana untuk menggalang petisi baru menuntut polisi untuk melakukan investigasi, " kata Usman.
Diet Sawit
Gerakan diet produk mengandung minyak sawit sudah lama dilakukan di luar negeri.
Mereka lebih aware dengan bahaya yang disebabkan perkebunan sawit. Mulai dari kerusakan ekosistem hutan, baik flora maupun fauna seperti orangutan, penyebab utama pemanasan global, dan memancing konflik sosial kemasyarakatan.
Diet Sawit dimaksudkan untuk mengurangi atau mengganti seluruhnya penggunaan produk yang mengandung minyak sawit.
Mulai dari bahan makanan, bahan kimia sampai ke kosmetik. Alternatif pengganti minyak sawit untuk gorengan juga sudah dimulai, misalnya dengan minyak jagung.
Populer di luar negeri, tidak di dalam negeri. Ketergantungan akan minyak sawit masih tinggi. Selain itu kata Usman Hamid, masyarakat tidak memiliki rasa peduli. "Kata anak muda, EGP - Emang Gue Pikirin!" selorohnya.
Padahal gerakan ini baik untuk lingkungan maupun kesehatan. Direktur Eksekutif COP, Hardi Baktiantoro menambahkan, awareness masyarakat bisa terus ditumbuhkan dengan kampanye dan edukasi. "Gerakan seperti ini cukup efektif untuk memaksa perusahaan kelapa sawit juga didorong untuk membuat kebijakan yang lebih ramah bagi orangutan. Tapi di Indonesia malah belum jalan," kata Hardi.
Masyarakat cuek, pengusahanya apa lagi. Sementara polisi melindungi, pemerintah terus saja memberikan ijin pengelolaan hutan.
Entah apa yang terjadi sepuluh tahun ke depan. Tidak ada lagi hutan, cuma tinggal pohon sawit tua di atas tanah yang tandus.
Mungkin saja orangutan juga sudah punah, tinggal menyisakan cerita sedih untuk anak cucu kita.
