Talkmen.com --- Tiga prinsip investasi: persiapan, kebutuhan, dan kecukupan.

Investasi yang menurut Anda benar, terkadang justru menyusutkan pendapatan.   Hati-hati dalam berinvetasi, cerdik dalam melihat peluang dan potensi uang adalah keharusan.  
"Effort and courage are not enough without purpose and direction." -John F. Kennedy-

Bagaimana atau dimana saya menginvestasikan uang saya? Pertanyaan yang selalu keluar bagi mereka yang memiliki pendapatan lebih dibandingkan dengan pengeluarannya. Hal tersebut sering kali ditanyakan karena tidak jarang uang yang dihasilkan dari hasil kerja kita bukannya habis dikonsumsi namun habis untuk di investasikan. Padahal pada dasarnya investasi harusnya memberikan keuntungan sehingga harta kita bertambah, justru bukan mengurangi harta yang kita miliki.

Investasi memang tidak mudah untuk kebanyakan orang namun tetap harus dilakukan. Bila Anda merasa bahwa Anda adalah orang yang sering gagal dalam berinvestasi, tidak perlu berkecil hati karena menurut berbagai sumber 80-90% investor juga 'berubah jadi donatur' dalam berinvestasi. Mengapa demikian?

Banyak orang mengatakan belajarlah dari pengalaman orang lain yang pernah mengalami sesuatu namun diri kita belum mengalaminya. Sering kali yang terjadi pada investasi adalah sebaliknya. Kita belajar atau dihajar oleh pengalaman kita sendiri pada investasi kita. Harus diakui bahwa dorongan berinvestasi dalam diri kebanyakan kita adalah untuk memperoleh 'yang sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya'. Bukan begitu? Hahahaha. Saya pun mengakui demikian. Psikologi seperti ini sebenarnya sudah dialami ratusan tahun kebelakang oleh jutaan orang disegala macam investasi dan hasilnya sama. RUGI!

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kelompok 10-20% investor berhasil dalam berinvestasi?

PREPARE!

Kebanyakan orang yang merugi dalam berinvestasi karena tidak siap dengan segala dinamika terutama risiko investasinya. Orang-orang tersebut cenderung tertarik oleh euforia yang sedang ramai mengenai investasi tersebut. Imbal hasil yang menarik, analisa dari para ekonom yang cerah, ekspansi perusahaan besar ke negara tempat dia berinvestasi di sektor yang sama, atau segala 'polesan manis' lainnya membuat mereka lupa bertanya pada diri sendiri "siapkah saya dengan kondisi yang ada untuk melakukan investasi di bidang ini?"

Emas dan mata uang asing merupakan salah satu bentuk investasi.
 

Persiapan dalam bentuk pengenalan risiko harus pertama kali dilakukan. Kita harus bertanya "siapkah kita dengan investasi sepanjang waktu ini? Siapkah kita untuk menanggung kerugian jika investasi ini gagal? Berapakah jumlah kerugian yang kita alami menurut kita?" Kenapa pertanyaan-pertanyaan itu harus ditanyakan diawal? Sederhana, dengan mengetahui dan terukurnya 'rasa sakit' yang ada didepan, biasanya kita akan lebih cepat sadar dan lebih siap bila harus menghadapinya, dan biasanya para investor sukses sangat ketat dalam fase ini.

PURPOSE & DIRECTION

Setelah mengetahui risiko maksimum yang bisa dihadapi dan sanggup untuk menanggungnya, yang harus kita tentukan adalah arah dan tujuan investasi kita. Seperti kalimat yang diucapkan oleh John F. Kennedy diatas, usaha (untuk memahami dan berinvestasi) dan keberanian (untuk menanggung risiko) tidaklah cukup namun perlu arah dan tujuan. Para investor sukses menyebutnya perencanaan alokasi portfolio atau sejenisnya.

Tujuan dari sebuah investasi jelas adalah bertambahnya nilai dari aset yang kita miliki. Dan ini tidak bisa ditawar! Pengenalan akan risiko di fase persiapan seharusnya membuat kita sadar, apakah kita masih seperti tujuan awal investasi kita. Jangan pernah bertoleransi dengan tujuan. Kebanyakan dari investasi akhirnya gagal karena kita terlalu toleran. Contohnya "ah, tunggu bulan depan mungkin akan menghasilkan." Itu merupakan bentuk toleransi, dan toleransi dalam investasi tanpa arah mengarahkan anda pada kerugian.

Apartemen bersubsidi merupakan bentuk investasi yang sedang banyak diminati.  

Milikilah arah investasi yang menuju tujuan karena arah merupakan rel yang baik untuk mencapai pada tujuan kita dengan deviasi risiko yang sudah anda siapkan pada fase persiapan. Sebagai contoh, investor besar macam Warren Buffet selalu memberi alasan kenapa dia berinvestasi di perusahaan tertentu. Dia memberikan tujuan bahwa industri dan perusahaan tersebut akan menuju pencapaian X paling lambat sekian tahun kemudian karena alasan Y.

Selama perjalanannya Buffet selalu berpegang bahwa proses Y masih berjalan sehingga X masih mungkin tercapai. Namun ketika Y sudah terlihat melenceng, Buffet biasanya akan merealisasikannya sebagai kerugian karena diluar perencanaannya semula dan itu terus dilakukannya.

ENOUGH

Salah satu syarat keberhasilan dalam berinvestasi dan yang paling sulit dilakukan adalah bukan perencanaan risiko, penetapan target arah dan tujuan atau prosesnya sekalipun, Yang paling sulit adalah merasa CUKUP dalam berinvestasi. Banyak orang mengatakan, lebih sulit menanggung kerugian dalam berinvestasi. Kenyataannya, lebih sulit menanggung 'ketinggalan peluang dibanding orang lain' dibanding kerugian. Ilustrasinya begini, bila A sudah mapan mempersiapkan investasinya, dia membeli sebuah investasi dengan harga 10 rupiah. Pada saat yang bersamaan dua orang sahabatnya (B dan C) membeli juga dengan harga sama 10 rupiah.

Pada perjalanannya sahabatnya yang pertama (si C) menjual investasinya dengan harga 12 rupiah. Namun harga pasar naik menjadi 13 rupiah dan keputusan investasi dua orang yang menahan investasi tersebut (A dan B) menjadi tepat. Oh ya tujuan mereka adalah memperoleh keuntungan dua rupiah pada awalnya.

Waktu berjalan, akhirnya A menjual investasinya di 12 rupiah kembali karena harga investasi mulai turun, dengan alasan DISIPLIN pada TUJUAN. Tidak berapa lama harga naik ke 15 rupiah, dan A mulai merasa salah menjual di 12 rupiah, dan akhirnya membeli di 15 rupiah sedangkan C tidak membeli. Pada waktu harga di 17 rupiah, B menjual investasinya, sedangkan A belum. Hargapun naik ke 18 rupiah dan A senang dengan keputusannya namun tidak menjualnya. Dalam semalam harga turun ke 14 rupiah.

Surat obligasi menjadi salah satu pilihan investasi.  

Pertanyaannya? Siapa yang benar atau siapa yang salah? (bila cerita berhenti sampai disini)

Pesan dari ilustrasi disini adalah, tujuan yang sudah ditargetkan mungkin bisa saja terlampaui namun prosesprepare-purpose & direction-action harusnya terus berulang disertai dengan evaluasi dalam bentuk persiapan yang baru. Pesan lainnya adalah belajarlah merasa cukup dengan apa yang ada seperti yang dikatakan banyak orang bijak disekitar kita.

Investor besar Warren Buffet tidak mengikuti booming-nya investasi dot com diakhir 90an sehingga tidak menikmati imbal hasil dari sana namun juga tidak terkena bubble-nya di awal 2000an dengan alasan dia tidak mengenal industri dot com. Namun tidak terlihat penyesalan dari Opa Buffet, karena dia tau benar bagaimana setelah mengeksekusi investasinya dan sampai ditujuan, dia tahu bahwa pencapaian tujuannya adalah pencapaian kecukupan pertambahan nilai untuknya, untuk mempersiapkan investasi yang baru lagi dengan benar dan terus demikian hingga dia menjadi investor terkaya didunia.

Bagimana dengan Anda dan saya? Sudahkah kita berencana? Menetapkan arah dan tujuan investasi? Dan sudahkah Anda mengetahui seberapa 'cukup’ hasil anda?