In-line, extreme sport ini sempat booming di pertengahan era 90an. Popularitasnya menggeser skateboard. Pintu 1 Senayan pun tiap weekend kerap dibanjiri oleh para recreational In-line skater.   Recreational? Ya, ada beberapa tipe orang memainkan in-line. Olah raga ini banyak diaplikasikan dalam beberapa bentuk aktivitas.   Yang pertama seperti sudah disebut tadi, adalah recreational skater. Ini bisa banyak kita temui di Senayan pada pagi hari. Tujuan orang melakukan recreational in-line skating, sama seperti melakukan jogging, yaitu untuk olah raga ringan yang fun.   Selain recreational, in-line skate juga digunakan untuk olah raga street hockey. Olah raga yang memiliki permainan dan peraturan sama dengan ice hockey. Bedanya adalah street hockey tidak membutuhkan ice rink. Bisa dimainkan dimana saja, dari lapangan parkir, lapangan basket indoor, sampai lapangan profesional.   Ada juga orang-orang yang menggunakan in-line secara khusus untuk fitness. Biasanya metode latihan yang digunakan adalah interval training, long distance, sprints, skate-to-ski, bahkan hill climbing. Fitness dengan in line skate adalah latihan cardiovascular yang bagus. Bahkan penelitian terakhir membuktikan nahwa inline skating bisa membakar kalori sebanyak lari, namun dengan risiko cedera persendian yang lebih kecil.   Bentuk lain dari permainan in-line adalah aggressive skating. Dalam aggressive skating, tugas in-line skater adalah menantang gravitasi. Karena resiko cidera yang tinggi, dalam aggresive skating, protective gear versi extra heavy duty harus dikenakan. Seperti skateboard, aggresive inline skating dilakukan di street, ramp, dan half pipe/vert.   Yang terakhir, inline digunakan juga untuk racing. Kalau di racing, in-line menggunakan lima wheel untuk mendapat handling dan speed yang lebih maksimal. Kalau dalam inline racing profesional, racer selain mengandalkan kecepatan dan keahliannya juga harus memantapkan strategi dengan timnya. [rad]   Sumber foto: the.honoluluadvertiser.com