
"Negara ruang lingkup ASEAN diperkirakan mata uang sendiri dalam jangka waktu 30 tahun, seperti yang terjadi di Eropa yang punya nilai tukar Euro " ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Difi A. Johansyah di Bandung, Sabtu (7/12).
Usulan menerapkan mata uang tunggal ASEAN sempat dilontarkan pada 2011. Alasannya, berkaca pada kondisi 2007-2008, perlu ada upaya memperkuat fundamental keuangan negara-negara Asia Tenggara. Namun, dalam KTT ASEAN ke-20, ide itu kandas karena ditolak mayoritas negara.
Difi menilai, kebutuhan mata uang tunggal memang terjadi secara alamiah, tak perlu dibahas di awal integrasi ekonomi kawasan. Namun, patut diperhatikan, karena ASEAN semakin bergantung pada perekonomian China, maka besar peluang Yuan menjadi mata uang yang kuat di pasar keuangan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
"Kita tahu dalam beberapa tahun kedepan Yuan akan menjadi mata uang yang kuat di pasar keuangan global. Sehingga mata uang Yuan diperkirakan dalam tiga puluh tahun kedepan akan menjadi mata uang di ASEAN," jelasnya.
Pengusaha ASEAN sendiri skeptis terhadap ide menyatukan mata uang. Berkaca pada pengalaman Uni Eropa, penyamaan kurs malah merugikan pada momen krisis ekonomi.
"Penyatuan mata uang itu sudah terbukti tidak baik bagi sebuah wadah antar negara, lihat saja apa yang terjadi di Eropa," kata CEO CIMB Group Nazir Razak bulan lalu di Jakarta.
Di sisi lain, China beberapa tahun terakhir menjadi negara yang secara agresif menggunakan mata uang Yuan buat transaksi perdagangan internasional. Mitra dagang Negeri Tirai Bambu, termasuk Indonesia, diminta membayar dalam Yuan ketika melakoni ekspor-impor.
Bank Indonesia mengakui fenomena itu, dan menyebut bahwa rezim Yuan dalam waktu dekat berpeluang menyamai dominasi Dolar Amerika (USD), sebagai acuan moneter internasional.
