Siapa nih dari lo yang seneng ngoleksi sneaker atau emang ngefans sama salah satu brand yang ada? Sneaker emang selain jadi alas kaki, kini jadi pelengkap gaya untuk outfit sehari-hari.

Tapi dulu, sneaker lebih dikenal sebagai perlengkapan olahraga sebelum secara luas jadi bagian dari style casual maupun semiformal. Sejarah dimulai pada tahun 1924 ketika Adi Dassler dan saudaranya Rudolf bikin sepatu yang digunakan oleh banyak atlet. Mereka berdua adalah cikal bakal berdirinya dua brand sportswear raksasa, adidas dan PUMA. 

Pada tahun 1950an barulah dimulai tren anak muda yang menggunakan sneaker yang biasanya digunakan para atlet dalam berbagai kejuaraan olahraga tersebut.

Sebut aja salah satu brand sneaker Air Jordan yang awalnya digunakan untuk basket oleh legenda basket Michael Jordan. Terlebih setelah pada tahun 1984 sang legenda menandatangani kontrak untuk menggunakan sneaker Nike Air Jordans pada saat bertanding. Bahkan setelah Michael Jordan pensiun, penjualan sneaker dengan nama Air Jordan terus meningkat dan sekarang jadi salah satu brand paling laris di dunia.

Seiring berkembangnya tren fashion, kultur streetwear dan sportswear pun melebur.

Banyak selebriti dan influencer pun berlomba untuk memiliki brand sendiri. Nama yang udah pakem di dunia sneaker adalah Kanye West sebagai pemilik dari brand Yeezy. Awalnya bernaung di bawah adidas, kini Yeezy mandiri dan jadi salah satu brand sneaker terbesar di dunia.

Tapi gimana dengan di Indonesia? Apa momen yang jadi awal sneaker mulai ngetren sebagai salah satu fashion item?

Mungkin perkembangan hype sneaker di Indonesia gak bisa lepas dari nama Footurama sebagai komunitas dan forum online para sneakerhead di Indonesia. Footurama yang sering bikin review tentang sneakers sampel yang mereka dapatkan berkembang jadi salah satu retailer sneaker ternama. Footurama yang awalnya punya 27 anggota terus berkembang dan jadi cikal bakal hype sneaker di Jakarta.

Meski awalnya masih dikuasai brand luar negeri seperti Yeezy, Air Jordan, dan yang lainnya, kini perlahan brand lokal terus bermunculan dan mengukuhkan eksistensi mereka di hadapan sneakerhead dalam negeri.


Salah satu brand sneaker lokal yang sekarang hits banget, Compass memulai petualangan mereka di dunia streetwear pada dekade 90an. Tepatnya pada tahun 1998, Compass mulai masuk ke pasar sneaker sebagai sebuah bisnis keluarga kecil. Bandung yang terkenal sebagai salah satu ‘kota mode’ di Indonesia jadi tempat kelahiran brand sneaker yang sekarang jadi rebutan para sneakerhead itu.

Dikutip dari CNN, Sayed Co-Founder sekaligus CEO USS Networks, Sayed Muhammad bilang bahwa tren sneaker di Indonesia berbeda dari dunia barat, Di Amerika Serikat, tren sneaker berkembang dari olahraga basket, sedangkan di Indonesia tren hype sneaker masuk seiring budaya hip-hop yang berkembang luas.

Influencer sneaker internasional dan style hypebeast seperti Kanye West dan Jay-Z disebut-sebut punya pengaruh terhadap perkembangan tren sneakers di Indonesia.


Karena semakin eksis, beberapa brand lokal udah mulai berani collab untuk bikin desain yang keren dan juga eksklusif.

Salah satu collab sneaker yang bikin heboh tahun 2020 ini adalah antara Ventela dan Nevertoolavish. Ventela menghadirkan desain yang orisinil dengan inspirasi grafiti yang dibawakan oleh NTL. Kabarnya Bro, collab Ventela x Nevertoolavish ini bakal selalu diproduksi selama masih banyak permintaan yang masuk.


Kalau Ventela collab dengan graffiti artist, Compass udah beberapa kali collab bareng musisi dalam negeri. Mungkin collab paling heboh yang dilakukan oleh Compass adalah dengan Kelompok Penerbang Roket. Jumlah produksi yang terbatas bikin collab ini sangat eksklusif. Bahkan ada yang menjualnya kembali dengan harga belasan juta.


Yang terbaru, Compass collab bareng brand asal Jepang nih Bro. Lo bakal menemukan desain streetwear yang khas dari brand Fxxking Rabbits pada sneaker Compass terbaru. Compass menyebut penampilan baru ini sebagai penampilan yang provokatif, seksi, dan punya spirit kebebasan.

Bersama brand streetwear Jepang ini, Compass bawain tampilan yang lebih berani, dan juga revolusioner. Fxxking Rabbits menyematkan desain grafis khusus untuk collab ini di bagian sole-nya yang punya warna semi transparan. Secara keseluruhan, Compass dapat upgrade penampilan, dari yang biasanya tampil dengan kesan vintage, kini jadi kontemporer.


Footurama yang jadi cikal bakal hype sneaker dalam negeri juga bisa dibilang merupakan pelopor event bertema sneaker dengan skala besar. Mereka biasa mengadakan event bertajuk Footurama Swap Meet yang jadi ajang jual beli sneaker bekas maupun baru. Sejak adanya Footurama Swap Meet, mulailah bermunculan event-event sejenis yang memeriahkan hype sneakers dalam negeri.

Sebut aja Jakarta Sneakers Day dan Urban Sneaker Society yang sama-sama debut tahun 2017 lalu. Kemudian ada Bandung Sneaker Season dan juga Sole Vacation Jogja yang sama-sama dimulai pada tahun 2018 lalu.

Empat event besar sneaker dalam negeri itu selalu berhasil memikat ribuan sneakerhead. Selain jadi tempat jual beli dan pameran sneaker, event tersebut selalu jadi kesempatan untuk brand sneaker lokal untuk terus eksis dan bersaing.

Yang paling deket nih Bro, Bandung Sneaker Season (BSS) bakal kembali digelar buat lo semua sneakerhead tanah air. Tapi karena pandemi yang belum selesai, BSS bakal diadakan secara online.

Bandung Sneaker Season adalah pelopor sekaligus event sneaker terbesar yang ada di Bandung. Tahun 2018 lalu, event yang dipelopori oleh Ipam Evil ini berhasil menarik lebih dari 20.000 pengunjung, Bro.

Ngomong-ngomong soal Ipam Evil nih, dirinya adalah orang yang berhasil membawa Macbeth masuk secara resmi ke Indonesia melalui store Evil Army yang dimilikinya. 

BSS kali ini bakal diadakan dari 21 September - 7 Oktober secara online di website, channel YouTube, dan juga akun Instagram Bandung Sneaker Season. 

Pantengin juga semua media sosial @lazone.id buat dapetin info terbaru tentang BSS dan juga berbagai update keren lainnya, Bro!