Sebuah film independen adalah film yang diproduksi tanpa bantuan finansial ataupun distribusi dari studio film besar. Menurut MPAA (Motion Picture Association of America, yang sebenarnya didirikan oleh lima studio film besar di Amerika) selama Januari hingga Maret tahun lalu, di Amerika perkembangan film indie memperlihatkan indikasi yang cukup baik, dengan menempatkan angka 15% dari pendapatan box office didapat dari film indie. Konteks independen sendiri sebenarnya agak beda-beda, ada yang bilang independen film adalah untuk sebuah film yang benar-benar dilakukan dengan budget yang sedikit, tapi ada juga perusahaan film kecil seperti perusahaan film milik Tom Hanks (Playtone) yang juga disebut sebagai independent film makers saat mereka menghadirkan My Big Fat Greek Wedding. Sejarah film independen sebenarnya sudah berlangsung sejak sangat lama, dan terjadi ketika beberapa orang ingin keluar dari kekuasaan para studio besar yang menjalankan sistem studio (menguasai sistem produksi, promosi dan distribusi film) yang membatasi gerak para pencipta film baru. Karena kekuasaan yang sudah sangat kuat itulah beberapa pihak merasa tidak cocok dan memilih untuk berdiri sendiri alias berusaha menjadi independen untuk dapat membuat karya-karya yang sesuai dengan ideologi masing-masing individu. Kebaradaan para pembuat film indie mulai memperlihatkan gigi mereka di tahun 1960-an, dan kebangkitan film independen semakin terasa dengan hadirnya teknologi komputer yang memungkinkan para sineas muda untuk membuat editing dengan kualitas prima serta kehadiran kamera digital dengan harga yang relatif lebih murah, yang benar-benar mampu memangkas ongkos produksi. Gaya film-film independen yang beda banget dengan film blockbuster ternyata juga bisa mendatangkan keuntungan yang nggak sedikit. Simak saja The Blair Witch Project yang di tahun 1999 berhasil jadi fenomena tersendiri. Setiap tahunnya, ada sekitar 300 judul film independen hadir di Amerika, mulai dari film untuk proyek sekolah sampai film yang digarap dengan lebih serius dan bugdet lebih besar. Film-film seperti ini beredar banget di festival-festival film di berbagai belahan dunia dan berharap bisa jadi tenar, seperti yang terjadi pada Napoleon Dynamite di tahun 2004 yang cuma dibuat oleh pelajar di daerah Utah tapi bisa menang besar di Sundance Film Festival. Saat ini sudah terjadi sinergi antara para pembuat film independen dan studio besar. Simak saja langkah yang diambil oleh Playtone (perusahaan film indie milik Tom Hanks) dan juga Flower Films (perusahaan film indie milik Drew Barrymore) yang ternyata memproduksi sebagian besar film yang didistribusikan oleh studio besar. Jangan bingung dengan langkah kerjasama ini, karena sekarang di Hollywood memang sedang trend gaya seperti ini. Simak aja waktu Spike Lee membuat She's Gotta Have It di tahun 1986 cuma dengan budget kecil ($200.000) dan ternyata filmnya sukses berat dan meraih untung $7 juta. Melihat hal ini ia langsung dilirik oleh studio besar, Colombia yang setuju membiayai film-film Lee berikutnya. Dunia film indie saat ini juga menjadi lebih terorganisir, karena sekarang studio besar juga mulai belanja talenta yang ternyata dimiliki oleh para pembuat film indie. Mulai dari mendanai sekolah film dan mengadakan festival film pendek untuk mengetahui siapa saja yang memiliki ide-ide segar di dunia film. Kesempatan untuk menjadi dikenal lewat jalur musik indie makin terbuka lebar karena sekarang festival film tumbuh bak jamur di musim hujan. sumber foto: www.jodompictures.combanner-ads