Sebuah foto bisa bercerita banyak. Tapi kisah di balik pengambilan foto seringkali tak kalah menarik. Soal suka dan duka, bahaya, intrik, sampai kisah cinta sang fotografer.
The Bang Bang Club didasari oleh cerita nyata tentang empat sekawan jurnalis foto Joao Silva, Kevin Carter, Greg Marinovich dan Ken Oosterbroek. Mereka bekerja bersama di Afrika Selatan ketika momen pembebasan Nelson Mandela berlangsung sampai dengan proses pemilu pertama di tahun 1994.
Keempatnya dikenal sering hunting foto di lokasi terjadinya baku tembak selama krisis Afrika berlangsung. Malah mereka sering berada di tengah kerusuhan antar dua pihak yang bertikai.
Misalnya, ketika Greg secara tak sengaja berhasil masuk ke markas salah satu pihak yang sedang berperang. Akhirnya Greg mendapat foto eksklusif mengenai sisi lain kehidupan rakyat Afrika dalam masa rusuh.
Gak heran kalo foto yang mereka hasilkan berbeda dari jurnalis foto lainnya. Imbasnya, banyak harian ternama di berbagai penjuru dunia rela membayar mahal untuk foto mereka. Hal itu membuat nama mereka tenar di kalangan foto jurnalis lainnya pada masa itu. Banyak foto jurnalis ingin jadi kayak mereka.
Malah salah satu foto Greg berhasil meraih Pulitzer, penghargaan tertinggi di dunia jurnalistik. Kesuksesan Greg diikuti oleh Kevin. Foto Kevin yang menggambarkan anak kecil kelaparan dan seekor burung pemakan bangkai ketika bertugas di Sudan mendapat Pulitzer.
Tapi itu semua buah manis yang diketahui orang banyak. Gak banyak yang tau gimana perasaan mereka ketika harus menekan tombol shutter di tengah pembantaian.
Tak banyak yang tau apa yang harus mereka lewati untuk mendapat gambar yang bisa dijual ke media. Menjadi saksi atas pembantaian tentu gak gampang. Darah, nyawa melayang tanpa alasan jelas, nasib anak-anak kelaparan menjadi pemandangan wajib buat mereka.
Dengan semua pemandangan perang itu, mereka dituntut buat tetap netral. Gak memihak dan gak boleh menolong. Soalnya sekali menolong, mereka bakal dianggap membantu salah satu pihak hingga nyawa mereka bakal diincar oleh musuh dari pihak yang ditolong. Singkatnya, mereka cuma boleh motret dan motret.
Film ini juga menceritakan kisah sebenarnya dari Kevin Carter. Banyak orang percaya Kevin merasa nyesel karena memilih memotret ketimbang