Kasus penyadapan oleh intelijen Australia terhadap perangkat komunikasi sejumlah pejabat Indonesia, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jadi berbuntut panjang. Aksi demonstrasi digelar sejumlah ormas di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta 21 November lalu. Di antara ormas dan organisasi pemuda yang ikut ambil bagian di aksi itu adalah Front Pemuda Muslim Maluku, Masyarakat Peduli Hankam, Himpunan Mahasiswa Al-Zahra, dan Laskar Merah Putih. Reaksi dari masyarakat Indonesia terhadap aksi penyadapan oleh Intelijen Australia itu akhirnya bikin pemerintah Australia deg-deg-an juga lho. Mereka pun akhirnya mengeluarkan peringatan bagi warganya yang hendak bepergian ke Indonesia. Status peringatan bepergian itu atau 'travel warning' itu juga meningkat dari 'normal dan aman' jadi 'penerapan kewaspadaan luar biasa'. Travel warning ini tetap dikeluarkan untuk meminta warga Australia selalu waspada menyusul reaksi atas kasus penyadapan itu yang nuntut pemerintah yang dipimpin PM Tony Abbot itu untuk minta maaf. Kasus ini emang masih bergulir dan pihak intelijen Indonesia juga masih melakukan penyidikan lebih lanjut. Pemerintah Indonesia dapat informasi ini dari laporan mantan intel Amerika Serikat, Edward Snowden, yang bocorin kalo United State National Security Agency mencatat intelijen Australia menyadap telepon SBY. Sumber: yahoo.co.id