Tentu bukan alasan kenapa Jokowi dengan sebegitu entengnya main naik turunin harga BBM. Wacananya sih subsidi BBM yang senilai Rp 300 triliun itu bakal dialihkan untuk berbagai sektor. Mulai pembangunan infrastruktur di daerah-daerah hingga subsidi yang lebih produktif lagi. Well, planning-nya cakep banget tapi realisasinya masih belum bisa dirasakan hingga kini.

Ada hal yang cukup menarik untuk disimak di balik langkah Jokowi yang berani itu, apalagi kalau bukan popularity problem. Loe tahu semua sebelum terpilih menjadi presiden dan bikin deretan putusan kontroversial sosok Jokowi bagai seorang idol yang dielu-elukan banyak orang. Di setiap sudut tempat, loe pasti sering banget mencuri dengar obrolan politik tentang Jokowi yang diklaim dekat dengan wong cilik.

Tapi kini keadaannya udah jauh berbeda. Baik simpatisan maupun pendukung presiden udah mulai woles ketika beberapa orang mempertanyakan kebijakannya yang mulai nggak berpihak kepada rakyat. Dulu sih para pendukung mantan Wali Kota Solo ini getol banget membela sang junjungan.

© Kapanlagi

Presiden Jokowi menanggapi hal ini dengan santai banget, “Tapi, saya sampaikan bahwa itu risiko sebuah keputusan.” Yup, popuritasnya kini nggak segaung dulu. Malah banyak nih para pendukung yang ganti mencaci keputusannya terutama masalah yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial.

Kita lihat saja apakah wacana pengalihan BBM ini benar-benar efektif untuk memperbaiki sektor yang lain. Pada sebuah sesi wawancara Jokowi bahkan pernah menyindir SBY dengan ungkapan, “Kenapa yang dulu-dulu tidak berani melakukan ini, karena masalah popularitas.” Nggak mainstream banget yah, jadi lihat aja kejutan apa yang bisa dibuat oleh presiden untuk 5 tahun ke depan.