Merdeka.com --- Masyarakat penggemar makan tahu dan tempe harus menerima kenyataan bahwa mulai hari ini, Senin (9/9) hingga beberapa hari ke depan, dua makanan yang sangat digemari di Indonesia itu akan hilang dari peredaran. Ratusan produsen tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia maupun Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia (Gakopti) mulai menyetop produksi mereka. Aksi mogok kali ini sangat spesial. Sebab bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hilangnya tahu dan tempe seolah menjadi kado bagi SBY. "Kita jadi mogok produksi 3 hari terhitung hari ini," ujar ketua Gakopti Aip Syarifudin kepada merdeka.com, Senin (9/9). Dia menuturkan, hari ini perajin tahu dan tempe sudah tidak memasok hasil produksinya ke pasaran. Aip mengatakan, jika hari ini sudah tidak ada pasokan tahu dan tempe, sesungguhnya menggambarkan bahwa aksi mogok produksi sudah dilakukan sejak, akhir pekan lalu. "Karena waktu untuk produksi tahu dan tempe sekitar 3 hari. Jadi kalau tidak ada tempe hari ini, berarti sudah sejak Jumat tidak produksi," katanya. Dia menyebutkan, seluruh perajin tahu dan tempe kompak mogok produksi. Kalaupun ada yang masih produksi, jumlahnya sangat sedikit. Aip menyebutkan, seluruh perajin tahu dan tempe yang ada di Indonesia mencapai 115.000. "Mungkin tidak seluruhnya mogok, tapi 99 persen sudah hentikan produksi," katanya. Aksi mogok produksi yang dilakukan oleh perajin atau pengusaha tahu tempe tidak lepas dari melonjaknya harga kedelai, bahan baku utama pembuatan dua makanan tersebut. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran lebih dari Rp 9.000 per kg. Kondisi ini memberatkan perajin tahu tempe. Biaya produksi membengkak, hingga akhirnya beberapa perajin tahu tempe memilih tutup. Krisis kedelai tidak hanya terjadi tahun ini. Medio Juli tahun lalu, Wakil Ketua DPR Pramono Anung bahkan berniat turun ke jalan bersama para produsen tahu dan tempe nasional. Penyebabnya sama, harga kedelai meroket setinggi langit. Krisis kedelai yang terjadi tahun lalu menyita perhatian semua pihak di negeri ini. Terlebih, tahu dan tempe bisa dibilang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Dua jenis panganan murah meriah itu mendadak sulit dijumpai di pasar tradisional maupun warung kelontong menyusul aksi para produsen yang memilih stop produksi sementara. Mogoknya produsen tahu tempe sebagai bentuk protes pada pemerintah yang tak kunjung berhasil menstabilkan harga kacang kedelai yang menjadi bahan baku utama membuat tahu dan tempe. Krisis kedelai tidak hanya terjadi tahun lalu. Awal 2008, tingginya harga kedelai secara tidak langsung 'menghilangkan' tahu dan tempe di pasaran. Pengrajin tahu dan tempe memilih menyetop produksi lantaran beban produksi yang terlalu besar.