Teknoup.com --- Beberapa hari lalu Bloomberg merilis sebuah artikel mengenai kemungkinan vendor smartphone asal Taiwan, HTC akan dibeli oleh salah satu dari 3 vendor besar asal China: ZTE, Huawei atau Lenovo. Kapitalisasi pasar HTC menurun 88 persen dari kondisi puncak mereka, selain itu HTC kini dihargai separuh dari penjualan tahunan mereka, hal yang memungkinkan nilai perusahaan ini lebih murah dari seharusnya. Masalahnya, para calon pembeli yakin HTC akan menjadi lebih murah dalam beberapa bulan mendatang, sehingga mereka menunggu. Sementara itu, pangsa pasar HTC secara global makin mengecil, nilai brand mereka pun demikian. Mantan penguasa Android kini hanya memiliki 3 persen pangsa pasar smartphone secara global. Beberapa jam setelah berita rumor ketertarikan vendor China tersebut dirilis Bloomberg, harga saham HTC malah menurun 1,3 persen. Biasanya spekulasi merger yang dipublikasikan sumber berita finansial terpercaya ini akan membuat saham perusahaan yang diberitakan naik paling tidak dalam jangka pendek, seperti yang sering terjadi pada Nokia dan BlackBerry (menurut beberapa spekulasi, BlackBerry dan Nokia juga diincar oleh Lenovo). Namun tidak pada HTC, mereka masih melanjutkan tren menurun. Alasannya bisa jadi dikarenakan para petinggi HTC masih yakin bahwa perusahaan mereka masih bisa naik nilainya dan tidak akan menjual HTC saat ini. Banyak dari mereka yang yakin konsumen hanya salah menanggapi merk HTC, dan ketika konsumen menyadari kekuatan smartphone HTC, segalanya akan berubah. Ini mentalitas yang sama dengan Nokia pada tahun 2010 dan BlackBerry tahun 2012. Sampai krisis benar-benar terjadi besar-besaran, beberapa pekan lalu pada akhirnya para petinggi BlackBerry mempertimbangkan untuk menjual perusahaan tersebut, namun saat ini tentu saja penjualan perusahaan bukan solusi yang 100 persen akan menyelamatkan perusahaan tersebut dari kehancuran, sebab keadaan sudah terlanjur terlalu kompleks.